BERAU, sudutkata.com – Keindahan alam yang unik membuat Goa Halo Tabung di Desa Payung-Payung, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Goa dengan kolam air payau alami ini tidak hanya menawarkan panorama eksotis, tetapi juga pengalaman berenang dan melompat ke dalam laguna yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Secara geologis, Goa Halo Tabung merupakan sinkhole atau lubang runtuhan pada kawasan batuan kapur (karst) dengan kedalaman sekitar 25 meter. Di dasar goa terdapat kolam air payau yang terbentuk dari rembesan air laut melalui celah-celah batuan karst. Kondisi tersebut menyebabkan volume dan ketinggian air di dalam goa selalu mengikuti pasang surut air laut.
Objek wisata yang ditemukan pada 2014 dan mulai dibuka untuk umum pada akhir 2016 itu kini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Berau.

Pengelola sekaligus penjaga Goa Halo Tabung, Edi, mengatakan jumlah kunjungan wisatawan hingga saat ini masih cukup tinggi, terutama saat akhir pekan.
“Kalau untuk liburan, Halo Tabung belum pernah sepi. Apalagi saat akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 100 orang per hari,” kata Edi saat ditemui, Jumat (18/7/2026).
Menurutnya, daya tarik utama Goa Halo Tabung bukan hanya keindahan goanya, tetapi juga kolam alami yang menjadi lokasi favorit wisatawan untuk berenang dan melompat dari bibir goa.
“Rata-rata pengunjung yang datang ke sini ingin berenang dan mencoba sensasi lompat ke kolam alami di dalam goa,” ujarnya.
Edi menjelaskan, nama Goa Halo Tabung memiliki sejarah tersendiri. Sebutan “Halo” merujuk pada laguna yang berada di sekitar kawasan wisata, sedangkan “Tabung” berasal dari nama lokasi penangkapan ikan kakap tompel yang berada tepat di depan kawasan tersebut.
“Nama Halo diambil dari laguna yang ada di ujung kawasan ini, sedangkan Tabung merupakan nama lokasi pemancingan nelayan di depan tempat wisata. Dari situlah akhirnya dikenal sebagai Goa Halo Tabung,” jelasnya.
Selain menikmati keindahan alam, wisatawan juga dapat berenang di kolam alami dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, pengelola telah membangun tangga menuju dasar goa.
Pengelolaan objek wisata ini awalnya dilakukan secara mandiri oleh Pelita Maratua Family (PMF). Sejak 2022, pengelolaan dilakukan melalui kerja sama dengan Pemerintah Kampung dan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK).
Pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp20 ribu per orang. Dari jumlah tersebut, Rp10 ribu menjadi bagian pendapatan kampung sebagai bentuk kontribusi terhadap pengembangan wisata.
Edi mengungkapkan, wisatawan mancanegara juga mulai mendominasi kunjungan dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, wisatawan asal Tiongkok menjadi yang paling banyak datang, disusul wisatawan dari Malaysia.
“Sekarang wisatawan asing juga cukup banyak. Dalam dua tahun terakhir, yang paling dominan berasal dari Tiongkok, kemudian mulai banyak juga dari Malaysia,” ungkapnya.
Meski jumlah kunjungan terus meningkat, pengelola mengaku masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur. Fasilitas dasar seperti listrik, toilet, musala, jaringan telekomunikasi hingga akses jalan dinilai masih belum memadai.
Bahkan, kata Edi, pengelola bersama pemerintah kampung selama ini harus ikut menanggung biaya perbaikan akses jalan menuju lokasi wisata.
“Harapan kami pemerintah bisa membantu penyediaan listrik, toilet, musala, jaringan telekomunikasi, dan akses jalan. Selama ini kami bersama pemerintah kampung berupaya membangun sendiri, padahal seharusnya menjadi kewenangan pemerintah,” tuturnya.
Ia menambahkan, hingga kini kawasan wisata Goa Halo Tabung masih belum teraliri jaringan listrik sehingga menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan destinasi tersebut.
Dengan potensi alam yang dimiliki serta tingginya minat wisatawan, pengelola berharap dukungan pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur dapat segera direalisasikan agar Goa Halo Tabung semakin berkembang sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Berau, sekaligus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. (iN)




