BERAU, sudutkata.com, – Goa Gumantung di Kampung Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik perhatian wisatawan. Goa yang resmi dibuka sebagai destinasi wisata pada 2025 ini menawarkan danau air payau alami berair jernih yang berada di dalam kawasan karst dan dikelilingi hutan tropis.
Lokasinya berada di kawasan perbatasan Kampung Teluk Alulu dan Kampung Teluk Harapan. Untuk mencapai gua, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 15 menit melewati jembatan kayu yang membelah hutan tropis.
Di dalam Goa Gumantung terdapat kolam alami dengan air yang merupakan percampuran air laut dan air tawar yang masuk melalui celah-celah batu karst. Pengunjung dapat menikmati keindahan gua menggunakan kano yang disediakan oleh pengelola.
Penjaga sekaligus pengelola Goa Gumantung, Iswadi, mengatakan dirinya telah mengelola kawasan wisata tersebut sejak sekitar satu tahun terakhir.
Menurutnya, kawasan wisata Gumantung tidak hanya memiliki Goa Gumantung, tetapi juga Goa Kana-Kana, Goa Kuba, serta Pantai Gumantung yang dapat dikunjungi wisatawan dalam satu kawasan.

“Di dalam Goa Gumantung kami menyediakan kano untuk wisatawan menikmati keindahan danau di dalam gua,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (18/7/2026).
Ia menjelaskan, kedalaman danau di area pelataran mencapai sekitar 40 meter, sedangkan pada titik yang biasa digunakan untuk melompat ke air berkisar 28 meter.
Nama Goa Gumantung sendiri memiliki sejarah yang erat dengan aktivitas para pemburu sarang burung walet pada masa lalu. Para pemburu memilih bergantung menggunakan tali saat mengambil sarang burung daripada berenang memasuki gua.
“Dalam bahasa Bajau, gumantung berarti bergantung. Dari situlah nama Goa Gumantung berasal,” jelasnya.
Untuk menikmati wisata susur gua menggunakan kano, pengunjung dikenakan tarif Rp50 ribu per kano dengan kapasitas maksimal tiga orang. Saat kunjungan ramai, durasi penggunaan kano sekitar 30 menit, sedangkan ketika sepi wisatawan dapat menggunakannya lebih lama.
Sementara itu, harga tiket masuk bagi wisatawan nusantara ditetapkan sebesar Rp40 ribu per orang.
Selain wisata gua, pengelola juga menyediakan fasilitas gazebo untuk beristirahat, area berkemah lengkap dengan tenda dan kompor, sehingga wisatawan dapat menikmati suasana alam lebih lama.
Meski demikian, Iswadi mengakui pengelolaan destinasi wisata tersebut masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Promosi pun masih mengandalkan media sosial karena kerja sama dengan agen perjalanan masih terbatas.
Ia berharap dukungan pemerintah terhadap pengembangan kawasan wisata terus ditingkatkan, terutama penyediaan air bersih dan pengembangan infrastruktur.
“Kami berharap ketika jalan lingkar selesai dibangun, kebutuhan air bersih di kawasan wisata ini juga bisa terpenuhi sehingga pelayanan kepada wisatawan semakin baik,” katanya.
Dalam sehari, jumlah kunjungan wisatawan ke Goa Gumantung dapat mencapai sekitar 70 orang, terutama pada musim liburan. (iN)


