BERAU, sudutkata.com – Pulau Kakaban di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia yang dikenal hingga mancanegara. Pulau yang berada di kawasan Kepulauan Derawan ini menawarkan keunikan geologi, keanekaragaman hayati, serta Danau Kakaban yang menjadi habitat ubur-ubur tidak menyengat.
Berbeda dengan pulau pada umumnya, Kakaban merupakan atol atau pulau karang berbentuk cincin yang terbentuk melalui proses geologi selama jutaan tahun. Berdasarkan penelitian, pulau ini muncul dari dasar laut sekitar 12 juta tahun lalu akibat pergerakan lempeng tektonik yang mengangkat terumbu karang ke permukaan.
Nama “Kakaban” sendiri memiliki beberapa versi. Dalam bahasa setempat diartikan sebagai “pelukan” karena bentuk pulau yang seolah memeluk danau di tengahnya. Sementara penelitian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman menyebutkan nama tersebut berasal dari bahasa Suku Bajau yang berarti “kakak”.
Selain menyimpan nilai sejarah geologi, Pulau Kakaban juga menjadi kawasan konservasi penting. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menetapkan kawasan Kepulauan Derawan seluas 285 ribu hektare, termasuk Kakaban, sebagai kawasan konservasi pesisir.
Ekosistemnya menjadi habitat berbagai satwa laut seperti penyu hijau, hiu paus, ikan napoleon, hingga ubur-ubur Cassiopea ornata yang hidup di Danau Kakaban. Keunikan danau air campuran antara air laut dan air tawar ini menjadikan flora dan fauna di dalamnya berevolusi secara berbeda selama jutaan tahun.
Tak heran, setiap tahun Pulau Kakaban menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Aktivitas berenang bersama ubur-ubur tanpa sengat, snorkeling, diving, hingga menikmati keindahan bawah laut menjadi daya tarik utama.
Salah seorang pengelola Pulau Kakaban, Subiakto (68), mengatakan sejak pengelolaan dialihkan kepada Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) pada Februari 2025, pengelolaan kawasan wisata dilakukan secara lebih profesional.

“Rata-rata kunjungan sekitar 100 orang per hari saat musim liburan seperti Lebaran, Tahun Baru, dan libur sekolah. Kalau hari biasa sekitar 20 sampai 30 orang per hari,” ujarnya saat ditemui, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, mayoritas pengunjung masih berasal dari wisatawan lokal, meski wisatawan asing juga rutin datang, terutama dari Tiongkok.
Untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan, sejumlah fasilitas baru telah dibangun, seperti jembatan menuju kawasan teluk serta gazebo bantuan Dinas Pariwisata Berau pada 2023. Namun di balik pesona alamnya, Pulau Kakaban masih menghadapi persoalan mendasar, yakni keterbatasan air bersih.
“Masalah terbesar kami adalah air. Di sini tidak ada sumber mata air. Kami hanya mengandalkan air hujan, sedangkan air untuk minum dan memasak harus didatangkan dari Pulau Maratua,” kata Subiakto.
Ia menjelaskan kebutuhan air mencapai ribuan liter setiap hari. Satu tandon berkapasitas sekitar 1.200 liter bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan selama satu hari penuh. Akibatnya, air laut dimanfaatkan untuk mencuci dan kebutuhan nonkonsumsi lainnya.
Biaya pengiriman air juga cukup tinggi. Untuk mendatangkan 1.200 liter air bersih dari Maratua, pengelola harus mengeluarkan biaya sekitar Rp400 ribu. Seluruh biaya tersebut masih ditanggung secara swadaya oleh pengelola.
Sementara itu, kebutuhan listrik di Pulau Kakaban telah terpenuhi melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Meski demikian, keterbatasan air menyebabkan sejumlah fasilitas toilet belum dapat berfungsi secara optimal.
Untuk mendukung operasional kawasan wisata, pengelola menerapkan kontribusi pengelolaan sebesar Rp50 ribu per pengunjung. Dana tersebut digunakan untuk biaya transportasi, pengadaan air bersih, perawatan fasilitas, serta honor petugas yang berjaga di kawasan wisata.
Pulau Kakaban dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 Wita. Selain menikmati danau ubur-ubur, wisatawan juga dapat melihat ikan julung-julung yang menjadi bagian dari kekayaan hayati kawasan tersebut.
Dengan keindahan alam yang mendunia, pengelola berharap dukungan pemerintah terus ditingkatkan, terutama dalam penyediaan air bersih agar pelayanan kepada wisatawan semakin optimal sekaligus menjaga keberlanjutan destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau tersebut. (iN)


