Sani Pangkas Gaji demi Subsidi LPG 3 Kg Hanya Rp 10 Ribu untuk Bantu Warga

dsgn.sk

SAMARINDA, sudutkatamcom – Suasana sebuah toko kecil di sudut permukiman Kota Samarinda belakangan tampak berbeda. Warga datang silih berganti membawa kupon di tangan mereka. Ada yang membeli LPG 3 kilogram, ada pula yang menebus gula dan minyak goreng. Semuanya dibayar dengan harga yang sama yakni Rp 10 ribu.

Di balik program sederhana itu, ada nama Dr. Sani Bin Husain. Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda tersebut memilih turun langsung membantu warga dengan cara yang tidak biasa, memotong pengeluaran keluarganya sendiri untuk membiayai subsidi kebutuhan pokok.

Program itu ia beri nama “Ayo Belanja di Toko Tetangga”

Bagi Sani, keresahan itu bermula dari obrolan santai bersama warga di lingkungan tempat tinggalnya. Ia mendengar cerita yang sama berulang kali, toko-toko kecil mulai sepi, sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.

Gas LPG 3 kilogram semakin mahal. Harga gula dan minyak goreng ikut melonjak. Di saat bersamaan, daya beli masyarakat melemah.

“Awalnya kami ngobrol biasa saja di tongkrongan. Banyak yang cerita omzet toko menurun karena warga makin hemat belanja,” kata Sani, Sabtu, 23 Mei 2026.

Kondisi itu membuatnya berpikir. Di satu sisi, warga kesulitan memenuhi kebutuhan harian. Di sisi lain, warung-warung kecil milik tetangga kehilangan pembeli.

Ia kemudian memutuskan membuat program subsidi mandiri menggunakan gaji pribadinya sebagai anggota dewan. Melalui kupon yang dibagikan gratis kepada warga sekitar, masyarakat bisa membeli LPG 3 kilogram, gula pasir 1 kilogram, dan minyak goreng 1 liter dengan harga Rp 10 ribu.

“Ini bukan program pemerintah, bukan juga pakai APBD. Murni dari kantong pribadi saya,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Sani, program tersebut adalah bentuk keberpihakan nyata di tengah situasi ekonomi yang menurutnya semakin menekan masyarakat kecil.

Ia tidak menampik bahwa secara materi dirinya merugi. Selisih harga kebutuhan pokok yang ditanggung dari dana pribadi perlahan mulai terasa.

Tetapi ia mengaku justru merasa bahagia ketika melihat toko-toko kecil kembali ramai didatangi warga.

“Yang bikin senang itu saat lihat warung tetangga kembali hidup. Warga juga bisa membeli barang dengan harga murah,” katanya.

Program itu juga membawa perubahan di rumahnya sendiri. Untuk menjaga subsidi tetap berjalan, Sani mengaku mulai menjalani pola hidup lebih sederhana bersama keluarganya.

Ia bercerita, pengeluaran rumah tangga kini ditekan semaksimal mungkin. Menu makan yang sebelumnya lengkap mulai disederhanakan.

“Kadang sekarang cukup telur dadar dibagi empat. Menurut saya efisiensi memang harus dimulai dari rumah pejabat dulu,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui sampai kapan program tersebut dapat bertahan. Ratusan kupon subsidi telah dibagikan kepada warga dan kebutuhan dana terus bertambah.

Namun Sani memilih tidak terlalu memikirkan hal itu.

“Saya dari kecil sudah terbiasa hidup susah. Jadi selama masih mampu, saya jalankan saja,” katanya.

Politikus Fraksi PKS itu berharap kondisi ekonomi nasional dan situasi global segera membaik agar harga kebutuhan pokok kembali stabil. Ia juga berharap semakin banyak pihak, terutama pejabat publik, ikut menghadirkan aksi nyata membantu masyarakat.

“Kalau ada yang mau meniru program seperti ini, saya senang sekali. Saya siap berbagi caranya,” pungkas Sani.