SANGATTA, sudutkata.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur meluncurkan program Sekolah Lansia sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup warga lanjut usia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif. Program yang diinisiasi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) itu mulai berjalan di empat lokasi dengan total 200 peserta.
Peluncuran program dilakukan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di Ruang Meranti, Sekretariat Daerah, Kawasan Pemerintahan Bukit Pelangi, Senin, 29 Juni 2026. Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng dan disaksikan Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua DPRD Kutai Timur Jimmi, Pelaksana Harian Kepala DPPKB Yuriansyah, Ketua TP PKK, serta sejumlah pejabat daerah.
Ardiansyah mengatakan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan seluruh kelompok masyarakat, termasuk lanjut usia, memperoleh ruang untuk tetap berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Menurut dia, keberadaan lansia tidak boleh dipandang sebagai kelompok yang hanya membutuhkan pelayanan, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang masih memiliki pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Lansia menyimpan memori kolektif, pengalaman, dan kearifan lokal yang sangat berharga. Karena itu mereka harus tetap diberi ruang untuk berkembang dan berkontribusi,” kata Ardiansyah.
Ia menambahkan, Sekolah Lansia diharapkan menjadi sarana edukasi yang mampu memperkuat ketahanan keluarga. Dalam konsep tersebut, keluarga tidak hanya berperan sebagai perawat, tetapi juga menjadi pendamping utama bagi anggota keluarga yang memasuki usia lanjut.
“Pemerintah berharap stimulus edukasi ini ikut memperkuat ketahanan keluarga, di mana anggota keluarga inti bertindak sebagai pendamping utama dan bukan sekadar perawat,” ujarnya.
Pelaksana Harian Kepala DPPKB Kutai Timur Yuriansyah mengatakan peserta Sekolah Lansia dipilih berdasarkan pendataan yang dilakukan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).
Ia menjelaskan, proses pembelajaran tidak hanya berisi materi umum, tetapi juga menggunakan kurikulum khusus yang dirancang untuk membangun karakter serta meningkatkan kualitas hidup para peserta.
Menurut Yuriansyah, program tersebut disusun berdasarkan tujuh dimensi pembelajaran, yakni spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, keterampilan, dan lingkungan.
“Tujuan Sekolah Lansia adalah menyiapkan lansia tangguh melalui penerapan tujuh dimensi tersebut sehingga mereka tetap sehat, mandiri, dan mampu berperan di tengah masyarakat,” katanya.
Pada tahap awal, pemerintah membentuk empat Sekolah Lansia dengan masing-masing 50 peserta.
Keempat lembaga itu yakni Sekolah Lansia Sekar Kedaton di Desa Sangatta Utara, Sekolah Lansia Mawar di Kelurahan Teluk Lingga, Sekolah Lansia Sekar Melati di Desa Swarga Bara, dan Sekolah Lansia Bina Sehat di Desa Singa Gembara.
Salah seorang peserta, Mukhtar, 63 tahun, mengaku mengikuti Sekolah Lansia karena ingin tetap memiliki aktivitas yang bermanfaat di usia senja.
Warga Gang Bone RT 14, Kelurahan Teluk Lingga, itu mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para lansia untuk menjaga kebugaran sekaligus memperluas interaksi sosial.
“Dengan adanya Sekolah Lansia, kami memiliki kesempatan untuk tetap bergerak, menjaga kebugaran, dan terus memotivasi diri agar tetap sehat serta aktif,” kata Mukhtar.
Ia berharap pemerintah terus menghadirkan program yang memberi perhatian kepada warga lanjut usia, sehingga mereka tetap merasa dibutuhkan dan mampu berkontribusi di lingkungan sekitar.
“Banyak di antara kami yang sudah tidak seproduktif dulu. Program seperti ini membuat kami tetap bersemangat, menjaga kesehatan, dan merasa masih bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. (*)


