SAMARINDA, sudutkata.com – Polder Air Hitam di Kota Samarinda tak lagi dipandang sebatas kolam retensi. Kawasan itu dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik yang menggabungkan fasilitas olahraga, ruang terbuka hijau, dan sentra usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Sani Bin Husain, mengatakan penataan kawasan Polder Air Hitam dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Selain memperbaiki kualitas ruang kota, pengembangan kawasan tersebut dinilai bisa membuka ruang bagi aktivitas ekonomi warga.
“Polder Air Hitam merupakan aset publik yang punya potensi besar. Jangan hanya dilihat dari fungsi pengendalian air, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai ruang terbuka yang sehat, nyaman, dan produktif bagi masyarakat,” kata Sani, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurut dia, salah satu fasilitas yang perlu dipertimbangkan adalah pembangunan lintasan lari atau jalur untuk aktivitas jalan sehat yang mengelilingi kawasan polder. Jalur tersebut, kata dia, perlu dirancang dengan standar yang memadai agar aman digunakan masyarakat.
Sani juga mengusulkan sejumlah fasilitas pendukung, seperti penerangan, area istirahat, lahan parkir, serta penanaman pohon peneduh. Fasilitas itu penting agar kawasan tersebut dapat dimanfaatkan warga secara nyaman sepanjang hari.
“Kalau fasilitasnya lengkap dan tertata, masyarakat punya pilihan tempat berolahraga yang aman tanpa harus mengeluarkan biaya. Ini juga bisa menjadi ruang interaksi warga di tengah kota,” ujarnya.
Selain fungsi olahraga dan rekreasi, Sani melihat Polder Air Hitam dapat menjadi ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Samarinda, menurut dia, dapat menyiapkan zona khusus untuk pelaku UMKM di kawasan tersebut.
Namun, keberadaan lapak usaha harus diatur agar tidak mengganggu fungsi utama polder. Sani mengusulkan agar kios atau lapak UMKM menggunakan desain yang seragam sehingga kawasan tetap terlihat tertib.
Produk yang dipasarkan pun, kata dia, sebaiknya mengutamakan produk lokal Samarinda dan Kalimantan Timur. Mulai dari kuliner khas, kerajinan, hingga berbagai produk kreatif buatan masyarakat.
“UMKM harus diberi ruang, tetapi penataannya jangan sampai membuat kawasan semrawut. Konsepnya harus sejak awal dirancang agar aktivitas ekonomi berjalan tanpa menghilangkan fungsi utama polder,” kata dia.
Sani mengatakan pengembangan Polder Air Hitam membutuhkan perencanaan jangka panjang. Kondisi fiskal Pemerintah Kota Samarinda yang sedang terbatas membuat proyek tersebut tidak realistis jika dipaksakan dalam waktu dekat.
Karena itu, dia mendorong agar rencana pengembangan kawasan Polder Air Hitam dimasukkan dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka panjang daerah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah dan hasil kajian teknis.
“Kondisi fiskal daerah tentu harus menjadi pertimbangan. Saya tidak berharap pembangunan ini dipaksakan sekarang. Lebih baik direncanakan secara matang dan dimasukkan dalam RPJPD agar bisa dikerjakan bertahap sesuai kemampuan anggaran,” tutur Sani.
Menurut dia, jika dikelola dengan konsep yang tepat, Polder Air Hitam berpotensi menjadi salah satu ruang publik baru di Samarinda. Selain mendukung aktivitas olahraga dan kualitas lingkungan, kawasan itu dapat menjadi wadah bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM untuk memperluas pasar. (In)






