SAMARINDA, SUDUTKATA.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat kebakaran lahan dan kondisi cuaca panas yang terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kaltim, Eryariyatin, mengatakan masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap kebakaran dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Kalau harus beraktivitas di luar, disarankan menggunakan masker sesuai standar untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan,” ujar Eryariyatin saat ditemui di Kantor Dinkes Provinsi Kaltim, Jalan A. Wahab Syahranie No. 16, Samarinda, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, paparan asap kebakaran dapat berdampak langsung terhadap saluran pernapasan, terutama meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kelompok masyarakat yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih adalah penderita asma, masyarakat dengan penyakit penyerta, penderita penyakit jantung, lansia, serta anak-anak. Paparan asap dapat memicu sesak napas dan memperburuk kondisi kesehatan, khususnya pada kelompok rentan.
“Karena itu, imbauan terkait kesehatan terus kami sampaikan kepada masyarakat,” katanya.
Dinkes Kaltim, lanjut Eryariyatin, juga memiliki tim promosi kesehatan (Promkes) dari bidang kesehatan masyarakat yang bertugas memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait kondisi musim kemarau maupun dampak kebakaran lahan.
Ia menyebutkan, sejumlah titik kebakaran telah terkonfirmasi di beberapa wilayah Kaltim. Penanganan dampak kesehatan dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak.
Selain tim kesehatan, terdapat Tim Reaksi Cepat (TRC) yang melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan penanganan apabila kondisi bencana berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, kondisi cuaca yang cukup panas dengan suhu siang hari yang dapat mencapai 34 hingga 36 derajat Celsius juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
Keterbatasan air bersih, menurut Eryariyatin, juga dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan saluran pencernaan, seperti diare, terutama apabila masyarakat menggunakan air yang tidak memenuhi standar kebersihan.
“Kami terus mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” jelasnya.
Edukasi mengenai PHBS dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk media sosial serta sosialisasi secara langsung kepada masyarakat.
Untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis kesehatan akibat bencana, Dinkes Kaltim juga menyiapkan tim yang dapat diterjunkan ke lapangan. Tim tersebut akan bekerja bersama instansi terkait untuk melakukan penanganan dan pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat terdampak.
Sementara itu, Dinkes Kaltim memiliki sistem pelaporan yang digunakan untuk mencatat berbagai kejadian terkait krisis kesehatan akibat bencana. Melalui sistem tersebut, laporan mengenai kejadian, dampak, hingga kondisi kesehatan masyarakat dari daerah dapat dipantau.
Data laporan berasal dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota, puskesmas, rumah sakit, hingga fasilitas kesehatan lainnya.
Eryariyatin mengatakan data terkait dampak kesehatan akibat kebakaran dan kondisi kemarau masih bersifat dinamis sehingga perlu dilakukan pemutakhiran secara berkala.
“Untuk data terbaru, saya perlu melakukan pengecekan kembali karena data tersebut bersifat dinamis,” pungkasnya. (IN)






