SAMARINDA, sudutkata.com – Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai upaya menjadikan Samarinda sebagai destinasi wisata belum ditopang kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan melestarikan kebudayaan lokal. Menurut dia, kedua aspek tersebut perlu diperkuat agar kota ini memiliki identitas yang menarik bagi wisatawan.
Puji mengatakan sampah yang masih berserakan dan kurangnya perhatian terhadap warisan budaya menjadi persoalan yang perlu dibenahi. Ia menilai promosi wisata tidak akan optimal jika tidak disertai lingkungan yang bersih dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya sendiri.
“Kalau kita tidak cinta budaya, tidak cinta lingkungan, bagaimana orang mau datang ke Samarinda? Sampah masih berserakan, karakter kotanya juga belum terbentuk,” ujarnya, Jumat.
Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat memilih berwisata ke luar daerah, seperti Bali, sementara potensi budaya Samarinda dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal. Puji membandingkan kondisi tersebut dengan Kutai Kartanegara yang menurutnya lebih konsisten menjaga tradisi.
“Kita lebih senang ke Bali atau daerah lain, padahal kita juga punya warisan budaya. Tapi sayangnya tidak dimanfaatkan,” katanya.
Puji menilai pelestarian budaya tidak cukup mengandalkan kegiatan seremonial. Pemerintah kota perlu memberikan dukungan anggaran dan memastikan kebudayaan mendapat ruang dalam kebijakan pembangunan daerah.
“Harus ada keberpihakan anggaran untuk pemajuan dan pelestarian budaya,” ujarnya.
Ia mengusulkan agar urusan kebudayaan dikelola bersama sektor pariwisata sehingga pelestarian tradisi dapat terhubung dengan promosi destinasi dan pengembangan ekonomi kreatif.
Usulan itu sejalan dengan rencana Pemerintah Kota Samarinda membentuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada 2027. Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan penggabungan kedua urusan tersebut diharapkan membuat pengelolaannya lebih terfokus.
Di sisi lain, pengembangan wisata juga membutuhkan promosi yang mampu memperkenalkan cerita, tradisi, dan kekayaan lokal kepada masyarakat luas. Dinas Pariwisata Kalimantan Timur mengangkat pendekatan tersebut melalui lokakarya penulisan kreatif pada 7–8 Oktober 2026 di Samarinda.
Puji berharap pembenahan lingkungan, dukungan anggaran, dan penguatan kelembagaan berjalan beriringan. Dengan begitu, budaya lokal tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga bagian dari identitas kota dan daya tarik bagi wisatawan. (In)



