KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kelanjutan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kabupaten Kutai Timur. Pemantauan kondisi udara dilakukan bersama sejumlah instansi untuk melihat dampaknya terhadap masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur, Sulastin, mengatakan kondisi asap terus dievaluasi melalui koordinasi dengan instansi terkait.
Hasil pemantauan tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak karhutla sekaligus bahan informasi bagi instansi yang memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan pembelajaran.
Menurut Sulastin, setiap instansi memiliki kewenangan sesuai bidang masing-masing. Dalam persoalan kesehatan akibat paparan asap, Dinas Kesehatan menjadi pihak yang memberikan pertimbangan mengenai kondisi yang aman bagi masyarakat.
“Misalnya terjadi asap seperti ini, berarti domainnya Dinas Kesehatan yang harus menentukan ini apakah baik atau tidak,” kata Sulastin, Senin (28/9/16).
Ia mengatakan kondisi asap di sejumlah wilayah Kutim dalam beberapa hari terakhir mulai membaik. Perkembangan tersebut dipantau melalui laporan dari kecamatan dan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Informasi mengenai kondisi udara dan perkembangan cuaca kemudian dapat menjadi bahan bagi Dinas Pendidikan dalam menentukan kebijakan pembelajaran, termasuk mempertimbangkan apakah PJJ masih diperlukan.
“Kemarin juga setiap kami rapat kan menghadirkan BMKG sebagai mitra kita menyampaikan,” ujarnya.
Sulastin menambahkan, berdasarkan informasi BMKG, Kutim diperkirakan mengalami hujan dalam beberapa hari ke depan dengan intensitas yang bervariasi, mulai ringan hingga sedang dan deras. Laporan dari sejumlah kecamatan juga menyebutkan hujan telah turun di beberapa wilayah.
BPBD Kutim terus memperbarui informasi kondisi lapangan melalui laporan dari kecamatan dan koordinasi dengan instansi terkait.
“Perkembangan kondisi asap dan cuaca tersebut menjadi bagian dari bahan evaluasi penanganan karhutla serta pertimbangan bagi kebijakan yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat, termasuk pembelajaran,” tandasnya. (adv/Kutim/Ra)



