KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada pelaksanaan pembelajaran di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sebanyak enam kecamatan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sedangkan sekolah di tiga kecamatan yang masuk zona hijau kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai Jumat (9/10/2026).
Pembukaan sekolah secara bertahap dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemantauan kualitas udara dan risiko kesehatan bagi peserta didik. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kegiatan pendidikan dengan kondisi lingkungan di masing-masing kecamatan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, mengatakan kualitas udara masih perlu menjadi perhatian meskipun kejadian kebakaran dan jumlah titik panas (hotspot) telah berkurang.
“Dari hasil rapat dan pemeriksaan di lapangan, memang udara tidak memenuhi syarat,” ujar Sulastin, Jumat (9/10/26).
Ia juga menyampaikan bahwa perlindungan terhadap anak-anak rentan telah menjadi pembahasan dalam rapat. Dalam keterangannya, kelompok anak berusia di bawah 12 tahun disebut sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian di tengah kondisi udara yang kurang sehat.
Sulastin menegaskan masyarakat perlu menerapkan langkah mitigasi selama kualitas udara belum membaik. Upaya tersebut mencakup penggunaan masker, pembatasan aktivitas di luar ruangan, dan memperbanyak minum air putih.
“Kalau untuk mitigasinya, ya harus menggunakan masker. Dikurangi aktivitas di luar,” katanya.
Penerapan PJJ di enam kecamatan dan pembukaan kembali sekolah di tiga kecamatan zona hijau menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan disesuaikan dengan kondisi kualitas udara. Perbedaan status tersebut juga menegaskan pentingnya pemantauan lingkungan sebelum kegiatan tatap muka dilaksanakan.
Dengan kondisi udara yang masih menjadi perhatian, perlindungan kesehatan peserta didik tetap menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran.
“Pemantauan kualitas udara menjadi dasar penting bagi penyesuaian kegiatan sekolah di wilayah yang terdampak pencemaran akibat karhutla,” tutupnya. (adv/Kutim/Ra)



