SAMARINDA, sudutkata.com – Gedung DPRD Kota Samarinda tak hanya menjadi tempat pembahasan kebijakan daerah. Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, ingin menjadikannya sebagai ruang belajar bagi pelajar untuk mengenal demokrasi dan praktik kehidupan bernegara secara langsung.
Menurut Ismail, pemahaman mengenai Pancasila dan demokrasi tidak cukup diberikan melalui materi di ruang kelas. Pelajar, terutama siswa SMP, perlu melihat bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
“Kita ingin pembelajaran Pancasila lebih dikenalkan kepada anak-anak, bukan hanya sekadar konsep, tetapi betul-betul diaplikasikan. Apalagi di tingkat SMP,” kata Ismail, Rabu.
DPRD Ismail bilang, Samarinda terbuka menerima kunjungan sekolah. Pelajar dapat berdiskusi dengan anggota dewan, mengenal fungsi legislatif, sekaligus melihat secara langsung proses kerja lembaga yang mewakili masyarakat.
Skema serupa, kata Ismail, juga dapat dilakukan di lingkungan sekolah. Anggota DPRD siap memenuhi undangan sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai fungsi lembaga legislatif, demokrasi hingga kehidupan politik.
“Siswa bisa langsung dibawa ke sini untuk belajar dan mendapatkan pengalaman langsung, atau teman-teman dewan diundang ke sekolah untuk menyampaikan materi. Kami juga siap,” ujarnya.
Ismail menilai pertemuan langsung dapat membuat pelajar lebih leluasa bertanya mengenai persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Dari sana, pendidikan politik dapat diperkenalkan secara sederhana tanpa menjadikannya sekadar hafalan.
Ia berharap pengalaman tersebut membantu membentuk pelajar yang memahami hak dan tanggung jawab sebagai warga negara sekaligus memiliki karakter kepemimpinan.
“Harapannya, anak-anak memiliki jiwa Pancasilais dan mampu menjadi pemimpin yang adil serta berlandaskan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah penguatan pendidikan Pancasila yang tengah didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Menterinya, Abdul Mu’ti mengatakan, pendidikan Pancasila perlu hadir melalui pembelajaran, budaya sekolah, pembiasaan, dan pengalaman nyata siswa.
“Penguatan pendidikan Pancasila dilakukan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, serta pengalaman nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari,” kata Abdul Mu’ti September 2026 lalu.
Mu’ti juga menekankan bahwa pendidikan Pancasila tidak semestinya berhenti pada pengetahuan. Nilainya perlu dipraktikkan hingga menjadi bagian dari karakter peserta didik.
“Pancasila harus dipraktikkan, bukan sekadar dihafalkan,” tandasnya. (In)



