Dari Bata Merah hingga Prestasi Nasional, Kisah SMK Medika Mencetak Generasi Berkarakter

SAMARINDA, sudutkata.com – Riuh tepuk tangan bergema di gor Segiri saat ratusan siswa kelas XII SMK Medika Samarinda berdiri dari kursinya. Sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam, sebagian lain memeluk teman seperjuangan yang selama tiga tahun terakhir tumbuh bersama di sekolah itu.
Suasana pelepasan siswa tahun ajaran 2025/2026 tidak berlangsung seperti seremoni sekolah pada umumnya. Tidak ada nuansa formal yang kaku. Gelak tawa, candaan, dan sorak-sorai justru mendominasi jalannya acara.
Di atas panggung, Kepala SMK Medika Samarinda Mus Mulyadi tampil dengan gaya khasnya. Santai, lugas, dan sesekali mengundang tawa hadirin.
Ia membuka sambutan dengan menceritakan sistem pembinaan karakter yang selama ini diterapkan di sekolah yang dipimpinnya.
Alih-alih memberikan hukuman fisik atau teguran keras, Medika menerapkan sistem denda unik menggunakan bata merah.
Siswa yang terlambat, misalnya, dikenakan denda lima bata merah.
Sementara siswa yang merokok di lingkungan sekolah bisa dikenakan denda hingga 150 bata merah.
Bagi siswa yang tidak melaksanakan salat dhuha, denda yang diberikan mencapai 25 bata merah.
Bahkan bagi siswa yang tidak mengikuti kegiatan keagamaan sesuai keyakinannya, tetap diberikan konsekuensi yang sama sebagai bagian dari pembinaan disiplin.
“Tidak ada yang dimarah-marahi, tidak ada yang dihukum keras, tetapi tetap ada konsekuensi,” kata Mus Mulyadi, Sabtu 30 Mei 2026
Menurut dia, pendekatan tersebut justru diterima baik oleh para orang tua.
Selama bertahun-tahun diterapkan, hampir tidak pernah ada komplain terkait bentuk pembinaan yang diberikan sekolah.
Mus mengatakan pendidikan karakter menjadi salah satu fondasi utama yang dibangun Medika.
Karena itu, pembelajaran agama dan penguatan akhlak mendapatkan porsi yang cukup besar.
Untuk mendukung program tersebut, sekolah bahkan menghadirkan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi khusus dalam pembelajaran Al-Qur’an.
Di hadapan para tamu undangan, Mus kemudian mengungkapkan perkembangan jumlah siswa yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Saat ini jumlah siswa Medika telah mendekati angka 1.500 orang.
Jumlah itu melampaui target yang pernah dipatok sekolah beberapa tahun lalu.
Dua tahun sebelumnya, angka 1.200 siswa disebut sebagai target emas yang ingin dicapai.
Namun capaian itu kini sudah terlampaui.
“Tahun depan target kami 2.000 siswa,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.
Pertumbuhan jumlah siswa tersebut tidak lepas dari program pendidikan gratis yang didukung Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Meski demikian, Mus menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep bantuan pendidikan yang diterapkan di sekolah swasta.
Ia membedakan istilah “gratis full” dan “full gratis”.
Menurutnya, sekolah swasta menerapkan semangat gratis full, yakni membebaskan berbagai biaya pendidikan pokok agar tidak membebani orang tua.
Biaya seperti SPP, uang praktik, uang gedung, biaya buku hingga sejumlah pungutan lainnya telah dihapuskan.
Namun kebutuhan tertentu seperti seragam khusus dan perlengkapan penunjang masih harus dibayar karena berasal dari pihak penyedia jasa atau konveksi.
“Semangatnya adalah meringankan beban orang tua,” katanya.
Mus juga menyinggung polemik yang sempat muncul di media sosial terkait biaya perpisahan siswa.
Saat itu beredar informasi bahwa siswa diminta membayar hingga Rp700 ribu walaupun nyatanya angkanya tidak demikian banyaknya yang di maksud.
Ia mengaku langsung membuka nomor telepon pribadinya selama tiga hari penuh untuk menerima aduan dari masyarakat.
Namun tidak satu pun orang tua yang menghubunginya.
Menurut dia, biaya yang dibebankan kepada siswa jauh lebih kecil dari informasi yang beredar.
Selain program pendidikan gratis, Medika juga dikenal sebagai salah satu sekolah dengan jumlah penerima beasiswa terbesar di Kalimantan Timur.
Tahun ini tercatat sebanyak 783 siswa menerima beasiswa dengan nilai total mencapai miliaran rupiah.
Mus menegaskan seluruh dana beasiswa diterima langsung oleh siswa tanpa pemotongan apa pun.
Ia bahkan menghapus sistem kepanitiaan dalam pengelolaan beasiswa agar tidak menimbulkan biaya tambahan yang tidak diperlukan.
Baginya, transparansi merupakan bagian penting dari tata kelola sekolah.
Di balik pertumbuhan sekolah yang pesat, Mus mengaku keberhasilan itu bukan hasil kerja seorang diri.
Ia menyebut para guru dan tenaga kependidikan sebagai sosok yang sesungguhnya berperan besar membesarkan Medika.
Mereka, kata dia, adalah kekuatan utama yang membuat sekolah terus berkembang.
Pengakuan itu disampaikan di hadapan ratusan guru yang hadir pada acara pelepasan.
Tepuk tangan panjang pun mengiringi pernyataan tersebut.
Mus juga menyinggung transformasi sekolah di era digital.
Ia mengaku aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan berbagai program dan prestasi sekolah kepada masyarakat.
Di balik aktivitas itu, terdapat tim kreatif yang terdiri atas belasan orang dan bekerja khusus mengelola konten digital Medika.
Strategi tersebut terbukti efektif memperluas jangkauan informasi sekaligus membangun citra sekolah.
Tak hanya dikenal melalui media sosial, Medika juga terus mengumpulkan prestasi di tingkat nasional.
Mulai dari futsal, atletik, balap sepeda, desain grafis, infografis hingga berbagai kompetisi lainnya.
Bahkan beberapa siswa mendapat dukungan penuh sekolah untuk mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional.
Bagi Mus, prestasi akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.
Karena itu, komposisi pembelajaran di Medika lebih banyak diarahkan pada praktik.
Sekitar 70 persen proses belajar dilakukan melalui praktik lapangan dan penguatan keterampilan.
Sedangkan teori hanya mengambil porsi sekitar 30 persen.
Melalui pendekatan tersebut, sekolah ingin menyiapkan lulusan yang siap bekerja sekaligus memiliki karakter kuat.
“Tanggung jawab, kejujuran, keberanian berbicara, itu yang ingin kami bangun,” katanya.
Di penghujung sambutannya, Mus memberikan tantangan kepada para lulusan.
Ia berharap tidak ada alumni Medika yang menganggur setelah lulus.
Menurut dia, keberhasilan para alumni akan menjadi ukuran sejauh mana sekolah mampu menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan.
Pesan itu kemudian disambut oleh Kepala Pelaksana tugas (Plt) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, (Disdikbud Kaltim) Armin, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutannya, Armin memberikan apresiasi terhadap perkembangan pesat yang dicapai SMK Medika.
Ia menyebut sekolah tersebut sebagai salah satu fenomena pendidikan yang menarik di Kalimantan Timur.
Jumlah siswa yang terus bertambah menjadi bukti tingginya kepercayaan masyarakat.
Menurut Armin, salah satu ciri sekolah yang baik adalah kemampuan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minatnya.
Ia melihat hal itu tumbuh kuat di lingkungan Medika.
Anak-anak diberi kesempatan tampil, berekspresi, dan menunjukkan potensinya.
Bagi Armin, indikator keberhasilan sekolah bukan hanya nilai akademik.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang membuat siswa merasa nyaman dan bahagia saat belajar.
“Ketika anak betah di sekolah dan bakatnya berkembang, itulah sekolah yang bagus,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan pendidikan karakter yang diterapkan Medika sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia yang sedang didorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Armin juga menyampaikan salam dan pesan dari Gubernur Kalimantan Timur mengenai pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan daerah.
Program bantuan pendidikan yang saat ini berjalan, menurutnya, merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Di hadapan para lulusan, Armin menutup sambutannya dengan pesan sederhana tentang arti karakter.
Ia mengutip kalimat yang kerap digunakan para tokoh pendidikan dunia.
Jika kehilangan harta, seseorang belum kehilangan apa-apa.
Jika kehilangan kesehatan, seseorang kehilangan sebagian hal penting dalam hidupnya.
Namun jika kehilangan karakter, seseorang kehilangan segalanya.
Pesan itu disambut hening sejenak oleh para siswa yang bersiap meninggalkan bangku sekolah.
Di tengah kemeriahan acara pelepasan, kalimat tersebut seolah menjadi penanda bahwa perjalanan mereka sesungguhnya baru akan dimulai.
SMK Medika melepas ratusan lulusan tahun ini dengan satu harapan yang sama, bukan hanya menjadi generasi yang cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki karakter kuat untuk menghadapi masa depan. (Mifa)
