SAMARINDA, sudutkata.com – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Helmi Abdullah, mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengandalkan ijazah untuk menghadapi persaingan dunia kerja. Mereka perlu membekali diri dengan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurut Helmi, perubahan kebutuhan tenaga kerja berlangsung semakin cepat. Kondisi itu menuntut generasi muda memiliki kemampuan praktis di luar pendidikan formal agar mampu bersaing, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri.
Pesan tersebut disampaikan Helmi saat menghadiri dialog kepemudaan yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) FKIP Universitas Mulawarman di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda akhir Okktober lalu. Forum itu mengangkat tema “Beda Suara, Satu Tujuan: Merajut Kolaborasi Golongan Tua dan Golongan Muda Tanpa Sekat”.
“Pendidikan formal saja tidak cukup. Adik-adik mahasiswa harus punya skill tambahan yang sesuai kebutuhan industri hari ini,” kata Helmi Abdullah.
Ia mengatakan, kepemilikan ijazah tidak serta-merta menjamin seseorang mampu memenuhi tuntutan dunia kerja. Kompetensi praktis, menurut dia, menjadi salah satu modal penting untuk memperluas kesempatan kerja maupun merintis usaha.
“Jangan hanya mengandalkan ijazah. Kompetensi praktis itu yang akan menentukan kalian bisa bersaing di dunia kerja atau membuka usaha sendiri,” ujarnya.
Helmi juga meminta organisasi kepemudaan mengambil peran dalam memperluas akses peningkatan keterampilan bagi mahasiswa. Salah satunya melalui kemitraan dengan pemerintah, sektor perbankan, hingga badan usaha milik negara (BUMN).
Melalui kerja sama tersebut, organisasi kepemudaan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan diskusi, tetapi mampu menghadirkan program peningkatan kompetensi atau upskilling yang dapat dirasakan langsung oleh generasi muda.
“HMI dan organisasi kepemudaan harus berani bangun kemitraan. Baik dengan pemerintah, perbankan, sampai BUMN. Biar ada program upskilling yang nyata untuk anak muda,” tutur Helmi.
Di sisi lain, Helmi menilai keterlibatan mahasiswa dalam pembangunan daerah juga perlu diperkuat. Ia membuka ruang komunikasi antara kalangan mahasiswa dan DPRD Samarinda untuk menyampaikan aspirasi maupun masukan terkait berbagai persoalan di kota tersebut.
Menurut dia, dialog dan audiensi dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menyampaikan persoalan yang mereka temukan sekaligus menawarkan gagasan bagi pemerintah daerah.
“Kami di DPRD terbuka. Sampaikan aspirasinya lewat dialog seperti ini atau audiensi. Itu akan jadi bahan kami dalam merumuskan kebijakan pembangunan,” katanya.
Helmi pun mengingatkan mahasiswa agar tidak ragu menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, kritik tersebut sebaiknya disertai argumentasi dan tawaran solusi agar dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan Samarinda.
“Silakan kritik, tapi harus konstruktif dan ada solusinya. Dengan begitu kontribusi anak muda akan terasa untuk kemajuan Samarinda,” pungkas Helmi. (*)



