SAMARINDA, sudutkata.com – Perlindungan perempuan dan anak menjadi salah satu agenda yang akan dibawa Fransisca Debi Oktavia dalam memimpin Dewi Pertiwi DPD PSI Samarinda. Psikolog tersebut ingin organisasi perempuan mitra strategis Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Fransisca mengatakan langkah awal kepengurusan Dewi Pertiwi Samarinda adalah melakukan konsolidasi dan memetakan persoalan yang dihadapi perempuan di daerah. Hasil pemetaan itu akan menjadi dasar penyusunan program.
“Kami tidak ingin terlalu lama berhenti pada seremoni. Tahap pertama yang akan kami lakukan adalah konsolidasi organisasi sekaligus turun langsung untuk melihat kebutuhan perempuan di Samarinda,” kata Fransisca, di Samarinda, Selasa.
Salah satu agenda yang akan diadaptasi di Samarinda ialah Gerakan Perempuan Berdokumen. Program tersebut diarahkan untuk membantu perempuan dan anak menghadapi persoalan dokumen kependudukan yang berkaitan dengan akses terhadap hak dan layanan dasar.
Fransisca mengatakan pelaksanaan program akan disesuaikan dengan kondisi di Samarinda. Selain administrasi kependudukan, organisasi akan menaruh perhatian pada pemberdayaan perempuan, kesehatan mental, peningkatan kapasitas serta perlindungan perempuan dan anak.
Isu kekerasan juga menjadi salah satu alasan Fransisca menempatkan edukasi dan pencegahan sebagai agenda penting. Menurut dia, masyarakat perlu mendapat pemahaman mengenai kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, perundungan hingga akses terhadap layanan bantuan.
“Kalau saya melihat dari perspektif saya sebagai psikolog sekaligus sebagai perempuan, salah satu persoalan yang paling membutuhkan perhatian adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga,” ujarnya.
Pemerintah Kota Samarinda mencatat 264 kasus kekerasan dengan 303 korban sepanjang Januari-November 2025. Pemkot juga mengembangkan layanan pengaduan bagi perempuan dan anak melalui Sistem Online Pengaduan Perempuan dan Anak atau SOPPA.
Menurut Fransisca, data tersebut menunjukkan perlunya keterlibatan berbagai pihak dalam pencegahan kekerasan.
“Peran masyarakat dan organisasi seperti Dewi Pertiwi adalah ikut memperkuat edukasi, pencegahan, literasi, serta membantu masyarakat mengetahui ke mana harus mencari pertolongan,” katanya.
Ia juga ingin isu kesehatan mental, relasi sehat, batasan tubuh, persetujuan, pengasuhan anak dan keberanian mencari bantuan masuk dalam kegiatan organisasi.
“Perempuan yang berdaya bukan berarti perempuan yang harus selalu kuat sendirian. Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang tahu haknya, tahu batasnya, tahu pilihan yang dimilikinya, dan tahu ke mana harus meminta bantuan ketika membutuhkan,” ujar Fransisca.
Meski berstatus mitra strategis PSI, Fransisca mengatakan Dewi Pertiwi Samarinda terbuka bagi perempuan dari berbagai latar belakang. Profesional, pelaku UMKM, akademisi, mahasiswa, ibu rumah tangga dan aktivis komunitas dapat terlibat dalam kegiatan organisasi.
“Persoalan perempuan tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja,” katanya.
Fransisca membawa latar belakangnya sebagai psikolog dalam menjalankan organisasi. Ia melihat persoalan kesehatan mental perempuan kerap berkaitan dengan kekerasan, relasi, tekanan sosial, ketergantungan ekonomi dan pola asuh.
“Saya melihat Dewi Pertiwi sebagai sebuah ruang untuk menghubungkan pengalaman profesional saya dengan kerja sosial di masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap Dewi Pertiwi Samarinda tidak dinilai dari banyaknya kegiatan, melainkan dari perubahan yang dihasilkan.
“Ukuran organisasi bukan seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar dampak yang bisa ditinggalkannya,” pungkas Fransisca. (*)


