KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Target nol stunting pada 2027 menjadi sasaran besar Pemerintah Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara. Untuk mencapainya, pemerintah desa memperkuat Dapur Stunting sebagai salah satu program utama yang menggabungkan pemenuhan gizi, edukasi keluarga, pemanfaatan pangan lokal, penguatan kader, hingga kolaborasi lintas sektor.
Kepala Desa Singa Gembara Hamriani Kassa menegaskan, target zero stunting pada 2027 bukan sekadar angka dalam perencanaan. Pemerintah desa ingin memastikan penurunan kasus berlangsung konsisten melalui intervensi yang menyentuh langsung keluarga, terutama mereka yang memiliki anak dengan risiko gangguan pertumbuhan.
“Target kami jelas, pada 2027 Singa Gembara harus bisa mencapai nol stunting. Karena itu, program yang sudah berjalan tidak boleh berhenti, justru harus semakin diperkuat dan melibatkan lebih banyak keluarga,” ujar Hamriani saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (8/9/2026).
Menurut Hamriani, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan. Perubahan pola pikir keluarga mengenai gizi, pola asuh, sanitasi, serta tumbuh kembang anak juga harus berjalan bersamaan agar penurunan kasus dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Salah satu instrumen utama untuk mengejar target tersebut adalah Dapur Stunting. Program ini dikembangkan sebagai pusat intervensi gizi sekaligus ruang edukasi bagi keluarga.
Pemerintah desa menetapkan lima kader terlatih untuk mengelola kegiatan, menyiapkan makanan tambahan, mendampingi keluarga sasaran, serta memastikan program berjalan sesuai kebutuhan anak.
Penyusunan menu dilakukan dengan mengikuti arahan ahli gizi Puskesmas Teluk Lingga. Pemerintah desa juga mendorong penggunaan bahan pangan lokal agar keluarga dapat menerapkan pola makan bergizi dengan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka sendiri.
“Kami ingin keluarga memahami bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal. Banyak bahan pangan di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, asalkan pengolahannya tepat,” kata Hamriani.
Hasil bumi setempat, Tanaman Obat Keluarga atau Toga, serta aktivitas Dasawisma menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Dengan model ini, intervensi gizi diharapkan tidak berhenti ketika program selesai, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh keluarga di rumah.
Upaya menuju nol stunting 2027 juga didukung oleh perkembangan angka kasus yang menunjukkan tren positif. Prevalensi stunting di Singa Gembara yang sebelumnya tercatat 26,45 persen pada Juli turun menjadi 16,69 persen pada akhir Desember. Jumlah anak terdampak juga berkurang dari 35 anak pada September menjadi 16 anak pada Desember 2025.
Bagi pemerintah desa, penurunan tersebut belum menjadi alasan untuk mengendurkan langkah. Justru capaian itu menjadi modal untuk memperkuat intervensi hingga seluruh kasus dapat ditekan menuju nol pada 2027.
“Penurunan ini menjadi penyemangat bagi kami. Tetapi pekerjaan belum selesai, karena selama masih ada satu anak yang mengalami stunting, kami tetap punya tanggung jawab untuk melakukan intervensi,” tegas Hamriani.
Hamriani menilai keterlibatan keluarga menjadi kunci penting dalam proses tersebut. Ketika orang tua memahami kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak, upaya pencegahan dapat dilakukan lebih awal dan tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah desa.
Pendekatan konvergensi juga terus diperkuat. Pemerintah desa memastikan penanganan tidak hanya berfokus pada anak yang sudah terindikasi stunting, tetapi juga memperhatikan kondisi ibu hamil, sanitasi rumah tangga, pola pengasuhan, akses layanan kesehatan, serta pemantauan pertumbuhan anak secara berkala.
Pembiayaan program didukung dari beberapa sumber. Selain APBDes dan Dana RT, Pemerintah Desa Singa Gembara memperoleh dukungan tanggung jawab sosial perusahaan dari PT Pama Persada Nusantara dan PT United Tractors.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena target nol stunting membutuhkan program berkelanjutan. Pemerintah desa berupaya agar kegiatan tidak hanya berjalan pada momentum tertentu, melainkan menjadi bagian dari pola pelayanan desa terhadap keluarga.
“Stunting tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah desa sendiri. Kami membutuhkan peran kader, tenaga kesehatan, keluarga, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat agar target nol stunting benar-benar bisa dicapai,” ucap Hamriani.
Upaya Singa Gembara juga mendapat pengakuan di tingkat Kalimantan Timur setelah desa tersebut meraih Juara II Penilaian Kinerja Desa Terbaik Pencegahan dan Penanganan Stunting Tahun 2026. Namun bagi Hamriani, penghargaan itu bukan tujuan akhir.
“Angka ini adalah bukti kerja keras seluruh warga. Kami optimis bisa mencapai target nol stunting pada tahun 2027,” tegasnya.
Target 2027 kini menjadi arah utama seluruh program penanganan stunting di Singa Gembara. Pemerintah desa akan mempertahankan Dapur Stunting, memperkuat kapasitas kader, memperluas edukasi keluarga, serta menjaga dukungan lintas sektor agar penurunan kasus terus berlanjut.
Dengan strategi tersebut, Singa Gembara tidak hanya mengejar prestasi administratif, tetapi berupaya memastikan setiap anak tumbuh dengan kondisi gizi yang lebih baik. Target nol stunting pada 2027 pun menjadi ukuran keberhasilan yang ingin dicapai bersama oleh pemerintah desa dan masyarakat. (RA/ADV/Kutim).



