SAMARINDA,sudutkata.com – Turnamen biliar Deadline Headline Bola 9 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia Kalimantan Timur (PWI Kaltim) di De Ale Billiard, Samarinda, diikuti 64 peserta. Ajang yang berlangsung selama dua hari, 28-29 Agustus 2026, itu tak hanya menjadi ruang silaturahmi antara wartawan dan mitra, tetapi juga diharapkan dapat menjaring pemain potensial untuk ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional atau Porwanas.
Peserta turnamen berasal dari anggota PWI di berbagai daerah di Kaltim. Sejumlah mitra PWI, mulai dari instansi pemerintah, lembaga pemasyarakatan, hingga perusahaan, juga ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia atau KONI Kaltim, Nidya Listiyono, mengapresiasi penyelenggaraan turnamen tersebut. Dalam sambutannya pada Kamis malam, 28 Agustus 2026, Nidya mengatakan kegiatan olahraga perlu terus dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antarlembaga dan pemangku kepentingan.
Ia juga menyampaikan salam dari Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur yang tidak dapat menghadiri kegiatan karena sedang berada di luar kota.

“Terima kasih, saya sudah diundang. Salam hormat dari Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur. Beliau belum bisa hadir karena berada di luar kota,” kata Nidya.
Menurut Nidya, kegiatan olahraga semacam itu perlu menjadi agenda yang terus berlanjut. Pemerintah, organisasi, dan berbagai pihak lain, kata dia, perlu membangun sinergi untuk mendukung kegiatan-kegiatan positif.
“Saya berharap kegiatan-kegiatan semacam ini terus dilaksanakan. Tetap bersinergi dengan pemerintah, dengan stakeholder, dengan siapa pun yang mau memberikan dukungan untuk hal-hal yang positif,” ujarnya.
Nidya berharap Deadline Headline Bola 9 tidak berhenti pada penyelenggaraan perdana. Ia mendorong agar turnamen berikutnya dapat menjangkau peserta yang lebih luas.
“Mudah-mudahan Deadline Headline Bola 9 ini ada versi-versi berikutnya yang lebih banyak merangkul semua elemen,” kata Nidya.
Ketua PWI Kaltim, Abdurrahman Amin, mengatakan turnamen tersebut sejalan dengan agenda pembinaan olahraga yang selama ini dijalankan organisasi wartawan itu. PWI Kaltim, kata dia, rutin menggelar Pekan Olahraga Wartawan Daerah atau Porwada setiap tahun.
“Kami di PWI punya agenda tahunan Pekan Olahraga Wartawan Daerah yang digelar setahun sekali,” ujar Abdurrahman yang akrab disapa Rahman.
Menurut Rahman, agenda olahraga wartawan juga berlanjut hingga tingkat nasional. PWI, kata dia, tengah mempersiapkan diri menghadapi Porwanas yang direncanakan berlangsung di Lampung pada April mendatang.
“Insya Allah pada bulan April akan ada Pekan Olahraga Wartawan Nasional yang dilaksanakan di Lampung,” katanya.
Ia berharap turnamen biliar tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk menemukan pemain yang berpotensi memperkuat kontingen Kalimantan Timur. Selama ini, menurut dia, Kaltim belum pernah menyumbangkan medali dari cabang olahraga biliar dalam ajang olahraga wartawan.
“Seingat saya Provinsi Kaltim belum pernah menyumbangkan medali di cabang olahraga biliar,” kata Rahman. “Mudah-mudahan dengan adanya turnamen ini teman-teman dari cabang olahraga biliar menemukan talenta-talenta yang nanti bisa diturunkan pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional.”
Selain mengejar prestasi, Rahman menilai olahraga juga penting bagi kehidupan para wartawan yang sehari-hari menjalani aktivitas dengan tingkat mobilitas tinggi. Turnamen tersebut, kata dia, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran peserta untuk menjaga kebugaran.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini teman-teman semakin sadar bahwa kegiatan seperti ini positif untuk menjaga diri supaya kita bisa lebih baik lagi dalam menjaga kehidupan yang lebih sehat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PWI Kaltim Billiard Club, Yudi Adi Prabowo, mengatakan turnamen itu digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Panitia sengaja melibatkan anggota PWI dari berbagai daerah serta mitra organisasi untuk mempererat hubungan.
“Kita mengadakan turnamen Bola 9 PWI Kaltim dalam rangka memperingati 17 Agustus,” kata Yudi. “Kita mengundang teman-teman PWI se-Kaltim dan mitra-mitra PWI seperti dinas-dinas, lapas, dan juga perusahaan-perusahaan supaya lebih erat lagi dan lebih terjalin hubungan silaturahmi.”
Sebanyak 64 peserta mengikuti turnamen tersebut. Pertandingan menggunakan sistem double elimination, yang memungkinkan peserta kembali bertanding setelah mengalami satu kali kekalahan.
Pada hari pertama, pertandingan digelar untuk menyaring peserta dari 64 menjadi 32 pemain. Kompetisi kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya hingga partai final.
“Pesertanya ada 64. Hari ini dari 64 ke 32 peserta, besok dari 32 sampai final. Kita pakai sistem pertandingan double elimination,” ujar Yudi.
Menurut Yudi, sistem tersebut dipilih bukan semata-mata untuk menentukan pemenang. Panitia ingin memberi kesempatan lebih banyak kepada peserta untuk bertemu dan berinteraksi selama turnamen berlangsung.
“Kalau ada yang kalah masih bisa main untuk yang kedua kalinya,” katanya. “Kita tidak mencari menang kalah di sini, tetap jalinan silaturahmi yang paling penting.”
Ia mengatakan peserta memberikan respons positif terhadap turnamen tersebut. Fasilitas meja biliar yang disediakan De Ale Billiard juga mendapat apresiasi, termasuk dari peserta yang datang dari luar Samarinda.
“Alhamdulillah, senang semua. Apalagi dengan mejanya, kita di-support sama De Ale. Mejanya bagus, katanya mereka,” ujar Yudi.
Peserta dari Bontang dan Tenggarong, kata dia, juga mengaku nyaman mengikuti pertandingan karena fasilitas yang tersedia dinilai memadai.
Ke depan, Yudi berharap turnamen Deadline Headline Bola 9 dapat menjadi agenda tahunan PWI Kaltim Billiard Club. Ia juga menargetkan jumlah peserta pada penyelenggaraan berikutnya bisa meningkat.
“Harapannya acara seperti ini bisa jalan terus setiap tahunnya, jangan cuma 64, kalau bisa 128 peserta atau lebih. Intinya lebih banyak lagi.” Harap Yudi. (*)



