Menakar Resiliensi Perhotelan Kaltim Di Kuartal II 2026

Lukisaan sketsa Armunanto. (aset pribadi)

Oleh: Y. Armunanto Somalinggi, SH., ST., M.MPar
– Dosen Industri Prodi Pariwisata Politeknik Negeri Samarinda
– Praktisi Hospitality

Efisiensi Anggaran Pemerintah Hantam Industri Perhotelan Kaltim

Sudutkata.com – Kebijakan efisiensi anggaran belanja sektor publik serta pengetatan perjalanan dinas oleh pemerintah pusat mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri pariwisata dan perhotelan di Kalimantan Timur. Koridor Samarinda – Balikpapan yang selama ini menjadi pusat aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) pemerintahan kini menghadapi tantangan berupa penurunan okupansi hotel sejak awal kuartal I hingga kuartal II 2026. Meski demikian, memasuki Mei 2026, mulai terlihat tren perbaikan melalui kenaikan tingkat hunian di sejumlah hotel.

Fenomena ini menjadi sinyal penting bahwa industri perhotelan di Kalimantan Timur masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap pasar birokrasi atau captive market pemerintah. Ketika belanja perjalanan dinas dan agenda rapat pemerintah dipangkas, dampaknya langsung terasa terhadap tingkat okupansi hotel, terutama hotel berbintang yang selama ini mengandalkan kegiatan pemerintahan sebagai sumber utama pendapatan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur menunjukkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang sempat terkoreksi hingga 11,10 poin menjadi 51,87 persen pada Januari 2026. Tren perlambatan tersebut kemudian terus membayangi industri hingga memasuki kuartal kedua tahun ini. Di sisi lain, rata-rata lama menginap tamu domestik juga masih stagnan di kisaran 1,53 hari.

Kondisi tersebut tidak lepas dari implementasi ketat Standar Biaya Masukan (SBM) 2026 yang memangkas paket rapat full day dan membatasi perjalanan dinas lintas kementerian maupun lembaga. Dampaknya terlihat jelas pada berkurangnya aktivitas di ballroom dan ruang pertemuan hotel-hotel di Kalimantan Timur.

Pola perjalanan aparatur sipil negara (ASN) juga mulai berubah. Jika sebelumnya perjalanan dinas identik dengan menginap beberapa hari, kini banyak agenda dilakukan dengan pola singkat. Peserta rapat datang pada pagi hari untuk menghadiri kegiatan di kawasan penunjang Ibu Kota Nusantara (IKN), lalu kembali pulang pada sore harinya demi menekan biaya penginapan.

Diversifikasi Pasar Menjadi Keniscayaan

Perubahan pola pasar tersebut menuntut pelaku industri perhotelan untuk segera beradaptasi. Hotel-hotel di Samarinda dan Balikpapan tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah sebagai sumber utama bisnis.

Salah satu strategi yang dinilai paling realistis ialah memperluas pasar ke sektor korporasi swasta. Kalimantan Timur masih memiliki potensi besar dari sektor pertambangan, perkebunan sawit, logistik, hingga konstruksi penunjang IKN yang terus berkembang. Segmen inilah yang perlu dibidik lebih agresif sebagai pengganti pasar pemerintahan yang mulai menyusut.

Selain itu, tren “bleisure” atau perpaduan business dan leisure juga dinilai dapat menjadi peluang baru. Hotel dapat bekerja sama dengan operator wisata lokal untuk menawarkan paket perjalanan yang mendorong tamu bisnis memperpanjang masa tinggal mereka, khususnya pada akhir pekan. Potensi wisata Sungai Mahakam, wisata mangrove, hingga wisata budaya lokal bisa menjadi nilai tambah yang menarik bagi tamu luar daerah.

Dari sisi internal, efisiensi operasional juga menjadi langkah yang tidak dapat dihindari. Pemanfaatan teknologi, penerapan konsep multi-skilling bagi karyawan, serta penghematan energi menjadi bagian dari strategi bertahan agar industri tidak sampai mengambil langkah ekstrem seperti pengurangan tenaga kerja.

Hospitality Tangguh di Tengah Tekanan

Industri perhotelan Kalimantan Timur sejatinya telah beberapa kali menghadapi ujian besar, termasuk saat pandemi Covid-19. Karena itu, situasi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat daya tahan industri melalui inovasi dan peningkatan kualitas layanan.

Keramahtamahan yang tercermin dari pelayanan resepsionis, standar kenyamanan kamar, hingga kualitas sajian makanan tetap menjadi kekuatan utama industri hospitality. Di tengah tekanan ekonomi, kualitas pelayanan justru menjadi faktor pembeda yang menentukan loyalitas pelanggan.

Semangat adaptif dan kreativitas para pelaku industri menjadi modal penting agar sektor perhotelan tetap mampu menopang pergerakan ekonomi daerah, khususnya di kota-kota penyangga IKN.

Pemerintah Daerah Perlu Hadir Lebih Aktif

Di sisi lain, transisi industri ini tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pelaku usaha. Pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk menjaga ekosistem pariwisata dan perhotelan tetap bergerak.

Potensi penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak hotel dan restoran seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Karena itu, dibutuhkan langkah yang lebih progresif melalui penyelenggaraan event kreatif, festival budaya, kegiatan olahraga, hingga agenda nasional dan internasional secara lebih masif pada kuartal III dan IV 2026.

Kehadiran kalender event yang terukur dan berkelanjutan akan membantu menciptakan pergerakan wisatawan sekaligus meningkatkan okupansi hotel di berbagai daerah.

Sinergi antara kebijakan publik yang adaptif dan daya juang pelaku industri diyakini menjadi kunci untuk mengembalikan gairah sektor perhotelan Kalimantan Timur. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Bumi Etam tetap memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang di tengah tantangan efisiensi anggaran. (*)