Balikpapan, sudutkata.com – Ketua Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Kalimantan Timur, Jerison Togelang (akrab disapa Bucek), mengapresiasi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta jajaran TNI dan Polri di Kaltim. Apresiasi itu disampaikan setelah Kaltim tidak masuk daftar provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nasional.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Kristomei Sianturi menyampaikan hal itu kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih di Halaman Tengah Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Pemerintah kini memusatkan penanganan di lima provinsi: Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Kalimantan Timur tidak termasuk di dalamnya.
“Awalnya enam provinsi, Bapak, tapi di Riau sudah kami keluarkan karena di Riau tidak ada pemunculan titik api lagi, sehingga ada lima provinsi prioritas hari ini Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat,” kata Kristomei, dikutip dari siaran langsung kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Menurut Kristomei, perkembangan karhutla di Sumatera Selatan dan Jambi masih naik, tetapi belum signifikan.
“Dan untuk yang mengalami kenaikan, Bapak, itu adalah di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi hari ini, Pak, tapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Kristomei juga mengatakan BNPB memperbaiki metode penghitungan karhutla dengan citra satelit sejak ia dilantik pada 15 Oktober 2026. BNPB terus berkoordinasi dengan BMKG, dan ia bersama Kepala Staf TNI Angkatan Darat meninjau langsung operasi di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Apresiasi dari PJI Kaltim
Menanggapi kabar itu, Jerison menilai capaian Kaltim tidak lepas dari kerja bersama banyak pihak.
“Ini kabar baik bagi kita semua. Kami mengapresiasi kerja keras pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta TNI dan Polri yang selama ini bersiaga mencegah dan menangani karhutla di Kaltim,” ujar Jerison.
Menurutnya, capaian ini menunjukkan kolaborasi lintas unsur berjalan baik dalam menjaga wilayah dari karhutla, yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat lewat asap dan gangguan kesehatan.
Dry ice di daerah lain, Kaltim tetap diminta waspada
Dalam laporannya, Kristomei menyebut operasi modifikasi cuaca dengan penyemaian dry ice (es kering) sejak 20 Oktober 2026 telah menyemai 3.900 kilogram melalui lima sorti. Di Sumatera Selatan, 800 kilogram disemai dalam satu sorti. Operasi itu, katanya, diikuti turunnya PM2,5 dan naiknya jarak pandang di Palembang.
“Sehingga ada penurunan PM, PM 2,5 turun. Kemudian jarak pandang atau visibility dari di Palembang saya bisa dari 700 meter menjadi 7.000 meter, Bapak,” katanya.
Kristomei tidak merinci periode pengukuran, sumber data, maupun besaran penurunan PM2,5. Hubungan langsung antara dry ice dan perubahan kualitas udara juga perlu dikonfirmasi lewat data BMKG atau instansi terkait.
Meski Kaltim tidak masuk daftar prioritas, Jerison mengajak semua pihak tidak lengah. Menurutnya, kewaspadaan dan pencegahan harus terus dijaga, termasuk kesadaran warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kaltim aman dari daftar prioritas itu kabar baik, tapi bukan alasan untuk berpuas diri. Api kecil hari ini bisa jadi bencana besok. Mari kita jaga bersama, jangan bakar lahan, karena hutan Kaltim adalah titipan untuk anak cucu kita,” tegas Bucek, sapaan akrab Jerison Togelang. (*)


