Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim Tegaskan Layanan Puskesmas di Desa Batuah Berjalan Baik, UGD Buka 24 Jam

SUDUTKATA.COM, SAMARINDA – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan di Puskesmas Batuah telah berjalan sesuai standar, termasuk layanan Unit Gawat Darurat (UGD) yang beroperasi selama 24 jam.
Penegasan tersebut disampaikan menyusul beredarnya informasi mengenai bayi berusia enam bulan yang meninggal dunia setelah sempat mendapatkan penanganan medis.
“Pelayanan di Puskesmas Batuah sudah berjalan dengan baik. UGD-nya buka 24 jam dan siap melayani masyarakat, khususnya kasus kegawatdaruratan,” kata Jaya saat ditemui, Senin (23/2/2026).
Menurut Jaya, pasien sebelumnya telah mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit swasta di Samarinda. Dengan demikian, kondisi tersebut bukan kali pertama bayi tersebut menerima layanan medis.
“Pasien ini sebelumnya sudah pernah berobat ke rumah sakit swasta. Jadi bukan pertama kali berobat. Setelah itu pasien pulang,” ujarnya.
Namun demikian, Dinas Kesehatan masih akan mendalami lebih lanjut terkait keputusan kepulangan pasien dari rumah sakit tersebut, apakah atas rekomendasi tenaga medis atau hanya untuk kontrol lanjutan.
“Pertanyaannya, apakah pulang itu memang disarankan oleh rumah sakit atau pulang untuk kontrol. Ini yang akan kami klarifikasi,” jelasnya.
Untuk memastikan kronologi serta kejelasan penanganan medis yang telah diberikan, Dinkes Kaltim berencana memanggil seluruh pihak terkait.
“Besok kami akan mengundang rumah sakit yang menangani pasien ini, termasuk puskesmas, untuk mencari tahu apa sebenarnya kasus penyakitnya,” tegas Jaya.
Berdasarkan informasi awal yang diterima, meski laporan lengkap belum dikantongi, Jaya menyebut kemungkinan bayi tersebut mengalami infeksi atau peradangan pada saluran pernapasan yang menyebabkan sesak napas.
“Dari informasi yang ada, kemungkinan besar pasien mengalami infeksi atau radang saluran pernapasan. Kondisi seperti ini memang bisa berkembang sangat cepat dan berbahaya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, gangguan pernapasan pada bayi dapat berkembang cepat dan berisiko tinggi apabila tidak segera mendapatkan penanganan optimal.
Jaya menuturkan, setelah pulang dari rumah sakit di Samarinda, kondisi pasien diduga memburuk pada malam hari. Keluarga kemudian membawa bayi tersebut ke Puskesmas Batuah yang beroperasi 24 jam.
“Karena di rumah mengalami perburukan, tentu keluarga mencari pertolongan yang paling dekat. Saat itu malam hari dan Puskesmas Batuah memang buka 24 jam,” katanya.
Setibanya di puskesmas, pasien dalam kondisi sesak napas dan membutuhkan oksigen. Hasil pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen pasien berada di bawah 70 persen, yang menandakan kondisi sangat kritis.
“Saturasinya sudah di bawah 70 persen, artinya oksigen dalam tubuh sudah sangat kurang,” jelas Jaya.
Melihat kondisi tersebut, tenaga kesehatan Puskesmas Batuah segera merujuk pasien ke rumah sakit terdekat, yakni RSUD I.A. Moeis di Samarinda.
“Tanpa pikir panjang langsung dirujuk ke RSUD I.A. Moeis karena itu yang paling dekat. Namun kondisi pasien memang sudah kritis dan tidak bisa ditolong,” katanya.
Jaya menambahkan, apabila penyakit yang dialami merupakan pneumonia berat pada anak, maka risikonya sangat tinggi karena dapat berdampak pada berbagai organ tubuh.
“Kalau sudah kritis, organ-organ bisa terdampak. Paru-paru, jalan napas, jantung, ginjal bisa terkena. Pada akhirnya memang sangat sulit ditolong,” pungkasnya. (In)
