SAMARINDA, sudutkata.com – Budidaya madu kelulut di Dusun Tani Baru, Desa Tani Harapan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, terus berkembang menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk Budidaya Madu Kelulut ASLI (Alami, Sehat, dan Lestari), PT Kutai Energi tidak hanya memberikan bantuan peralatan, tetapi juga mendampingi warga agar mampu mengelola usaha secara mandiri.
Program tersebut berawal dari inisiatif masyarakat sekitar 2019. Dari kegiatan yang semula dilakukan secara sederhana di lingkungan rumah, kini Kelompok Peternak Lebah Kelulut ASLI telah berkembang dan melibatkan sekitar 38 anggota.
Setiap anggota memiliki sarang kelulut yang ditempatkan di sekitar rumah masing-masing. Jumlah keseluruhan sarang yang dimiliki kelompok saat ini telah mencapai lebih dari 280 log.
Supervisor Business Project CSR PT Kutai Energi, Bonny Irvan Faizal, mengatakan pola pendampingan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurutnya, CSR tidak semestinya berhenti pada pemberian bantuan. Masyarakat perlu dibekali kemampuan agar dapat mengembangkan dan mengelola usaha secara berkelanjutan.
“CSR ini bukan hanya bagaimana kita memberikan bantuan, tetapi bagaimana kita melakukan pendampingan. Jadi masyarakat kita fasilitasi, kita dampingi, kemudian kita tingkatkan kapasitasnya supaya ke depan mereka bisa mandiri,” kata Bonny saat ditemui di Kantor PT Kutai Energi, Minggu (23/8/2026).
Pendampingan diberikan sesuai kebutuhan kelompok. Dukungan tersebut mencakup peralatan produksi, kemasan, penguatan kelembagaan, pemasaran hingga membantu pengurusan legalitas produk.
Kelompok juga mendapatkan mesin penyedot madu, botol dan label kemasan. Untuk memperluas pemasaran, PT Kutai Energi turut memfasilitasi promosi melalui pameran, bazar dan berbagai kegiatan lainnya.
Pelatihan pengelolaan kelompok juga diberikan, mulai dari pembukuan, pengemasan hingga strategi pemasaran produk.
“Jadi bukan hanya alatnya yang kami berikan. Kami juga memberikan pelatihan bagaimana mengelola kelompok, bagaimana melakukan pembukuan, bagaimana pengemasan, sampai bagaimana memasarkan produknya,” ujarnya.
Ketua Kelompok Peternak Lebah Madu Kelulut ASLI, Jumabir, menjadi salah satu warga yang merasakan perkembangan budidaya tersebut.
Ia mengaku awalnya memelihara kelulut hanya sebagai kegiatan sampingan di sekitar rumah. Namun, setelah melihat hasil yang diperoleh, kegiatan itu perlahan berkembang menjadi sumber penghasilan.
“Awalnya pribadi. Cuma hiburan saja. Lama-lama ternyata menghasilkan. Jadi sampingan, sederhana, tetapi alhamdulillah ada penghasilan,” ujar Jumabir.
Perjalanan Jumabir dalam membudidayakan kelulut juga tidak langsung berjalan mulus.
Ia sempat mengambil sarang kelulut dari kawasan hutan dan membawanya pulang untuk dipelihara. Namun, koloni lebah tersebut justru meninggalkan sarangnya.
Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Jumabir kemudian belajar dari sesama pembudidaya hingga memahami cara mengambil dan memindahkan koloni dengan benar.
“Saya belajar dari teman-teman. Awalnya gagal. Kemudian dikasih tahu, kalau ketemu log jangan dibongkar, langsung diambil bersama kayunya. Dari situ saya coba lagi. Alhamdulillah sampai sekarang berhasil,” tuturnya.
Dari awal hanya memiliki sekitar 13 log, Jumabir kini telah memiliki 38 log. Perkembangan tersebut kemudian diikuti warga lainnya hingga terbentuk kelompok budidaya.
Berbeda dengan pola peternakan yang terpusat, budidaya kelulut kelompok ASLI dilakukan secara mandiri oleh masing-masing anggota. Sarang ditempatkan di sekitar rumah sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap koloninya sendiri.
“Masing-masing anggota kelompok memelihara sendiri di samping atau dekat rumahnya. Jadi bukan satu orang yang mengurus semuanya,” jelas Jumabir.
Seiring berkembangnya kelompok, dukungan PT Kutai Energi juga semakin beragam. Selain mesin penyedot madu dan kebutuhan kemasan, perusahaan memberikan sejumlah peralatan pendukung lainnya.
Kelompok juga mendapat dukungan berupa pembangunan pondok pertemuan yang digunakan untuk berbagai kegiatan bersama. Dalam aspek administrasi, PT Kutai Energi turut membantu pengurusan legalitas produk, termasuk sertifikat halal.
“Kalau masalah pemberkasan, PT Kutai Energi yang tanggung. Sertifikat halal juga mereka yang mengurus. Jadi kami tinggal menerima. Itu yang membuat teman-teman semakin semangat,” kata Jumabir.
Bagi kelompok, pendampingan tersebut dinilai berbeda dibandingkan bantuan yang hanya diberikan sekali. Warga mendapatkan kesempatan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, sekaligus membangun usaha secara bertahap.
“Selama didampingi PT Kutai Energi, alhamdulillah semakin maju. Karena didampingi, bukan dikasih saja,” ujarnya.
Bonny mengatakan keberhasilan program tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah bantuan atau peralatan yang diberikan. Lebih dari itu, program diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang memiliki kemampuan mengelola usaha dan menghasilkan produk bernilai ekonomi.
“Kami ingin program ini bukan hanya menjadi program CSR yang memberikan bantuan. Harapannya masyarakat bisa mandiri, punya kemampuan mengelola usaha, punya produk yang bisa dipasarkan dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” pungkasnya.
Penulis : Indra Susanto



