SAMARINDA, SUDUTKATA.COM – Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda telah menyalurkan sebanyak 160.000 liter air bersih kepada masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) yang terdampak kekeringan. Bantuan tersebut diberikan secara intensif selama dua bulan, yakni sepanjang Juli hingga Agustus 2026, sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah kondisi kekeringan ekstrem.
Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan distribusi diprioritaskan ke sejumlah daerah yang mengalami krisis air bersih. Wilayah tersebut meliputi Desa Sebakung Jaya dan Desa Gunung Intan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kecamatan Long Kali di Kabupaten Paser, serta kawasan Makroman dan Bantuas di Kota Samarinda.
“Air bersih yang disalurkan ini diambil dari sumur air tanah dalam yang dibor dengan kedalaman di atas 100 hingga 200 meter, sehingga airnya sangat jernih dan dingin, berbeda dengan air sungai yang keruh,” ujar Andri di kantor BWS Kalimantan IV Samarinda, jalan MT. Haryono No. 36, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis, (3/9/2026).
Menurutnya, sumber air tersebut berasal dari sumur air tanah dalam yang telah dibor hingga kedalaman lebih dari 100 meter sampai 200 meter. Kondisi itu membuat air yang digunakan untuk bantuan dinilai lebih jernih dan dingin dibandingkan air sungai. Distribusi air dilakukan secara bergilir menggunakan mobil tangki berkapasitas 4.000 liter. Jumlah air yang disalurkan setiap harinya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
“Dalam sehari, volume distribusi air dapat mencapai 12.000, 16.000, hingga 20.000 liter, menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing RT,” jelasnya.
BWS Kalimantan IV juga menerapkan mekanisme khusus agar bantuan air bersih benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan. Warga tidak diperbolehkan mengajukan permintaan secara individu. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan bantuan, termasuk kemungkinan air bersih yang diberikan pemerintah diperjualbelikan.
“Masyarakat yang membutuhkan air bersih tidak dapat mengajukan permintaan secara perorangan. Permohonan harus dilakukan secara kolektif melalui pengurus RT atau pihak kelurahan,” katanya.
Selanjutnya, permohonan dari masyarakat akan diteruskan oleh pemerintah setempat kepada BWS Kalimantan IV Samarinda untuk ditindaklanjuti berdasarkan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Dalam menentukan lokasi prioritas, BWS juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) guna memetakan titik-titik yang mengalami krisis air secara lebih akurat.
Selain memastikan distribusi tepat sasaran, BWS menerapkan dokumentasi dalam setiap kegiatan penyaluran sebagai bagian dari akuntabilitas dan transparansi pelayanan publik. Setiap penyaluran langsung kepada masyarakat didokumentasikan melalui foto yang dilengkapi keterangan waktu dan lokasi aktual atau timestamp.
“Setiap kegiatan penyaluran langsung ke warga didokumentasikan dengan foto yang dilengkapi keterangan waktu dan lokasi aktual atau timestamp,” ungkap Andri.
Andri menegaskan, penyaluran 160 ribu liter air bersih tersebut tidak terlepas dari kerja sama lintas instansi, termasuk dengan Direktorat Jenderal Cipta Karya. Dalam kolaborasi tersebut, Ditjen Cipta Karya meminjamkan armada mobil tangki untuk mendukung proses distribusi. Sementara itu, BWS Kalimantan IV Samarinda menanggung kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), personel operasional, serta menyediakan titik sumur air.
“Kelancaran distribusi ratusan ribu liter air bersih ini merupakan wujud kolaborasi lintas instansi bersama Direktorat Jenderal Cipta Karya,” tutur Andri.
Ia menambahkan, dukungan terhadap penanganan krisis air bersih di Kaltim juga akan diperkuat oleh pemerintah pusat. BWS Kalimantan IV Samarinda telah mengonfirmasi adanya tambahan dukungan dari pemerintah pusat di Jakarta berupa mobil tangki dan mobil pompa air.
“Ke depan, kami telah mengonfirmasi adanya perkuatan bantuan dari pemerintah pusat di Jakarta, berupa tambahan mobil tangki dan mobil pompa air, demi memastikan warga Kaltim tidak kekurangan air bersih selama musim kemarau panjang,” pungkasnya. (iN)


