KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih mempertimbangkan tingkat kerentanan peserta didik dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya stabil akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pertimbangan tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah daerah dalam mengevaluasi penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah berjalan sejak 18 September 2026.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman mengatakan setiap jenjang pendidikan perlu dilihat berdasarkan kondisi peserta didiknya. Kelompok usia anak-anak, khususnya pada jenjang pendidikan tertentu, menjadi perhatian karena dinilai lebih rentan terhadap kondisi udara yang kurang baik.
“Untuk SMP mungkin silakan, untuk SD sama PAUD coba dicek dulu. Karena rentannya itu pada usia anak-anak,” ujar Ardiansyah saat diwawancarai.
Menurutnya, perhatian terhadap dampak kualitas udara tidak hanya berlaku bagi peserta didik. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi masyarakat secara umum, terutama kelompok usia yang memiliki tingkat kerentanan tertentu.
“Manusia itu juga rentan dengan keadaan seperti ini. Jadi bukan hanya anak-anak, ada usia-usia yang rentan dan itu juga terdampak,” jelasnya.
Karena itu, pemerintah daerah masih melakukan penyesuaian terhadap kegiatan pembelajaran dengan melihat perkembangan kondisi di lapangan. Penerapan pembelajaran tidak serta-merta disamakan untuk seluruh jenjang pendidikan.
Evaluasi juga dilakukan untuk memastikan aktivitas pendidikan tetap dapat berjalan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keamanan kelompok yang rentan terdampak kualitas udara.
Untuk sementara, PJJ masih menjadi bagian dari penyesuaian kegiatan belajar di Kutim. Perubahan menuju pembelajaran tatap muka (PTM) akan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara serta kondisi peserta didik pada masing-masing jenjang.
Dengan pola evaluasi tersebut, pemerintah daerah dapat menentukan kebijakan pembelajaran berdasarkan kondisi aktual di lapangan, khususnya bagi kelompok usia yang membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara menurun. (adv/Kutim/Ra)



