KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Pemerintah Kecamatan Sangatta Utara menjalankan Rumah Rehabilitasi Gizi (RRG) sebagai salah satu bentuk intervensi terhadap anak berisiko stunting. Program tersebut tidak hanya memberikan makanan tambahan, tetapi juga melibatkan dokter spesialis hingga psikolog.
Camat Sangatta Utara, Hj. Hasdiah, mengatakan terdapat sekitar 540 anak yang masuk kategori berisiko stunting. Dari jumlah tersebut, sebanyak 138 anak berusia 0 hingga 24 bulan kemudian menjalani proses skrining.
“Dari 138 anak itu kita melakukan screening. Anak berisiko belum tentu dia betul-betul stunting, karena bisa ada penyakit penyerta di dalamnya,” kata Hasdiah saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2026) kemaren.
Anak yang dapat mengikuti RRG antara lain mereka yang mengalami persoalan pertumbuhan dan kekurangan gizi. Sementara anak dengan penyakit penyerta diarahkan ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan, bila diperlukan, dirujuk ke rumah sakit.
Pelaksanaan RRG didampingi dokter spesialis anak, dokter spesialis gizi, psikolog, tim gizi puskesmas, bidan serta kader.
Anak yang mengikuti program mendapatkan pemberian makanan tambahan (PMT) selama 56 hari. Kondisi mereka juga diperiksa secara berkala oleh dokter spesialis setiap 14 hari.
Program tersebut tidak berhenti pada pemenuhan asupan anak. Orang tua juga mendapatkan edukasi mengenai pola asuh, cara mendampingi anak bermain hingga cara memberikan makanan.
Hasdiah mengatakan pola asuh menjadi salah satu persoalan yang ditemukan dalam penanganan anak berisiko stunting di Sangatta Utara.
“Di RRG itu selain pemberian PMT kepada anak, juga bagaimana mendampingi anak-anak bermain, bagaimana memberi makan anak. Ada kelas khusus untuk orang tua,” jelasnya.
Apabila setelah mengikuti program kondisi anak belum menunjukkan perkembangan, pemeriksaan kembali dilakukan untuk menentukan penanganan lanjutan.
Hasdiah belum menyimpulkan bahwa keberadaan RRG telah menurunkan angka stunting secara keseluruhan karena diperlukan data untuk mengukur perubahan jumlah kasus.
Namun, menurut dia, perkembangan kondisi kesehatan pada anak yang telah menjalani intervensi mulai terlihat.
“Kalau penurunan kita belum bisa mengatakan ada penurunan, tapi perubahan dari tingkat kesehatan anak itu kelihatan jelas ada perubahan,” pungkasnya. (TA/ADV/KUTIM).



