PENDINGIN, sudutkata.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), belum juga berakhir.
Kebakaran yang terjadi di kawasan gambut tersebut kini telah menghanguskan sekitar 311 hektare lahan. Api dilaporkan masih menyala setelah berlangsung lebih dari sepuluh hari.
Upaya pemadaman menghadapi kendala cukup berat. Selain medan menuju lokasi titik api yang sulit ditembus, ketersediaan air juga terbatas akibat musim kemarau. Kondisi ini membuat petugas harus menggunakan strategi khusus agar kobaran api tidak semakin mendekati permukiman.
Kasi Kedaruratan BPBD Kutai Kartanegara, Syaiful Muhammady, menjelaskan bahwa karakter lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman berlangsung sulit.
Menurutnya, api yang berada di bawah permukaan gambut tidak cukup dipadamkan hanya dengan menyiramkan air pada bagian yang terlihat terbakar.

“Memadamkan gambut itu sistemnya seperti mengisi kolam, air harus dipenuhi sampai lahan jenuh, baru apinya otomatis mati. Kalau hanya disiram sedikit, apinya akan lari ke tempat lain,” kata Syaiful saat ditemui di lokasi pemadaman, Rabu (26/8/2026).
Karena titik utama kebakaran sulit dijangkau, petugas memilih melakukan upaya blokade. Sebanyak 18 personel gabungan dari BPBD, Manggala Agni dan Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR) dikerahkan untuk menjaga agar api tidak melewati batas yang telah ditentukan.
Mereka bersiaga di sejumlah titik yang dianggap rawan sebagai langkah untuk menahan pergerakan api menuju kawasan permukiman warga.
Persediaan air menjadi persoalan lain dalam penanganan karhutla di Pendingin. Sejumlah anak sungai dan void atau lubang bekas tambang yang sebelumnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber air kini dalam kondisi mengering.
Petugas pun mengandalkan pasokan air dari Sungai Sanga-sanga. Distribusi air tersebut turut mendapat bantuan dari pihak perusahaan swasta untuk mendukung proses pemadaman.
Di tengah kondisi tersebut, Syaiful berharap pemerintah provinsi dapat memberikan intervensi melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Hujan buatan diharapkan dapat membantu mengatasi kebakaran yang terjadi di kawasan gambut tersebut.
Selain mengancam lingkungan dan permukiman, kebakaran juga mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat sekitar.
Siti Asmuni, warga yang telah tinggal di kawasan tersebut selama 17 tahun, mengatakan kebakaran yang terjadi saat ini merupakan yang paling parah selama dirinya menetap di wilayah tersebut.
Ia menuturkan, kobaran api mulai merambat dari area PT Indominco sejak Juli. Kondisinya kemudian semakin membesar pada 17 Agustus 2026.
“Kami sudah mulai sesak napas dan batuk-batuk karena asap,” ujar Siti.
Kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut telah dirasakan warga selama berminggu-minggu. Namun, menurut Siti, hingga kini belum ada bantuan kesehatan ataupun posko medis dari Pemerintah Kabupaten setempat.
Warga terpaksa bertahan secara mandiri sambil menghadapi kondisi kebakaran yang belum sepenuhnya teratasi. Di sisi lain, keberadaan api yang semakin mendekati permukiman membuat masyarakat terus berada dalam kekhawatiran. (iN)


