SAMARINDA, sudutkata.com – Panggung di Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya menjadi tempat pertunjukan seniman. Sejak pertengahan Juli 2026, panggung itu juga rutin diisi pelajar SMA dan SMK dari sejumlah sekolah di Samarinda.
Sebanyak 17 SMA dan SMK mendapat kesempatan tampil secara bergiliran dalam pagelaran kesenian yang digelar setiap Sabtu. Program tersebut dimulai pada 18 Juli dan dijadwalkan berlangsung hingga 28 November 2026.
Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kaltim, Ernawati Sinaga, mengatakan kegiatan itu sengaja dibuat untuk memberi ruang bagi pelajar menunjukkan kemampuan mereka di hadapan publik.
Menurut dia, pementasan menjadi salah satu cara bagi siswa mengembangkan bakat sekaligus melatih keberanian tampil di luar lingkungan sekolah.
“Bagaimana mereka bisa mengembangkan bakat diri, salah satunya melalui apresiasi dan pergelaran seni budaya yang ada di Taman Budaya,” ujar Ernawati, Sabtu (22/8/2026).
Taman Budaya, kata Ernawati, tidak membatasi pertunjukan hanya untuk kalangan sekolah. Orang tua dan masyarakat umum dipersilakan datang menyaksikan penampilan para pelajar.
Kehadiran penonton justru dinilai penting karena siswa dapat merasakan atmosfer pertunjukan yang sebenarnya. Dari situ, mereka bisa belajar mengatasi rasa gugup, mengevaluasi kekurangan, sekaligus melihat potensi yang masih bisa dikembangkan.
“Bukan hanya orang tua, masyarakat juga boleh datang. Semakin banyak yang menonton, mental anak-anak akan semakin terlatih dan mereka semakin termotivasi,” katanya.
Salah satu sekolah yang telah mendapat kesempatan tampil ialah SMKN 10 Samarinda. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 10 Samarinda, Hendry Pahlevy, menilai panggung yang disediakan Taman Budaya memberi pengalaman berbeda bagi siswanya.
Selama ini, kata Hendry, pertunjukan seni siswa lebih banyak berlangsung di lingkungan sekolah. Kesempatan tampil di ruang publik membuat karya mereka bisa dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
“Biasanya kegiatan seni hanya di internal sekolah. Dengan adanya wadah seperti ini, mudah-mudahan kreasi anak-anak tidak hanya diketahui lingkungan sekolah, tetapi masyarakat juga bisa melihat perkembangan mereka,” ujar Hendry.
Persiapan penampilan dilakukan sekolah sejak beberapa pekan sebelum jadwal pertunjukan. Pihak sekolah berkoordinasi dengan Taman Budaya mengenai transportasi, perlengkapan hingga kebutuhan teknis selama pementasan.
Hendry mengatakan sejumlah persoalan teknis sempat muncul, termasuk perangkat suara. Namun, masalah tersebut dapat diselesaikan melalui koordinasi kedua pihak.
Dukungan transportasi yang disediakan juga membantu sekolah membawa para siswa menuju lokasi pertunjukan.
“Alhamdulillah semuanya bisa terkendali. Transportasi, alat, waktu dan tempat sudah jelas karena koordinasi dilakukan dengan baik,” kata Hendry.
Bagi SMKN 10 Samarinda, kesempatan tampil tersebut juga dinilai penting karena sekolah berada di kawasan yang selama ini relatif jauh dari pusat kegiatan seni.
Hendry mengatakan informasi mengenai sejumlah agenda kesenian di pusat kota terkadang tidak sampai ke sekolah. Program Taman Budaya membuka kesempatan bagi siswa untuk ikut ambil bagian.
“Selama ini event-event di luar sering luput dari sekolah kami. Dengan kegiatan ini, kabarnya bisa sampai dan anak-anak punya kesempatan tampil,” ujarnya.
Taman Budaya Kaltim mengatakan setiap sekolah yang masuk dalam jadwal telah dikoordinasikan agar kebutuhan pementasan dapat dipersiapkan. Sekolah juga diberi kesempatan menampilkan karya sesuai kreativitas dan kemampuan siswanya.
Dengan jadwal pertunjukan yang berlangsung setiap Sabtu hingga akhir November, panggung Taman Budaya diharapkan menjadi ruang pertemuan antara pelajar, orang tua, seniman dan masyarakat.
Bagi Taman Budaya, panggung tersebut bukan sekadar tempat siswa tampil. Lebih jauh, ruang itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan karya pelajar kepada publik sekaligus membangun ekosistem seni yang lebih dekat dengan generasi muda.
Masyarakat Samarinda pun diajak datang menyaksikan pertunjukan. Semakin terbuka ruang apresiasi, semakin besar pula kesempatan pelajar untuk menguji kemampuan mereka di hadapan publik. (*)





