SAMARINDA, sudutkata.com – Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menyiapkan strategi baru dalam mempromosikan destinasi wisata. Alih-alih hanya menjual pantai atau pemandangan alam, pemerintah akan lebih menonjolkan kekayaan hayati dan daya tarik khas yang tidak dimiliki daerah lain.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal, mengatakan tantangan utama pengembangan wisata Kaltim masih terletak pada aksesibilitas menuju sejumlah destinasi unggulan, terutama di kawasan pesisir dan kepulauan.
“Problem utama kita adalah akses transportasi yang masih jauh dan cukup sulit. Karena itu kita harus mencari sesuatu yang benar-benar menjadi ikon. Orang datang ke Kaltim bukan hanya untuk melihat pantai atau menyelam, sebab itu juga ada di banyak daerah lain,” ujar Faisal saat diwawancarai di Kantor Dinas Pariwisata Kaltim, Samarinda, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, Kaltim memiliki banyak potensi wisata kelas dunia yang perlu dipromosikan secara lebih masif. Di antaranya keberadaan hiu tutul di perairan Talisayan dan Biduk-Biduk, ubur-ubur tak menyengat di Danau Kakaban yang hanya ada di beberapa lokasi di dunia, hingga kekayaan bawah laut di Pulau Miang dan kawasan pesisir Berau.
Selain itu, Kaltim juga memiliki satwa endemik dan objek wisata alam lain yang bernilai tinggi, seperti beruang madu di Balikpapan, Pesut Mahakam, Anggrek Hitam, kawasan Kersik Luway, hingga bentang alam karst yang unik.
“Kita harus menjual sesuatu yang langka di dunia. Kalau hanya menjual pantai, orang tentu memilih yang lebih dekat, lebih murah, dan lebih mudah dijangkau. Tetapi kalau kita punya sesuatu yang tidak dimiliki daerah lain, orang akan datang,” katanya.
Faisal mengungkapkan, pihaknya juga akan mulai mempromosikan wisata selam secara lebih terstruktur. Menurutnya, banyak wisatawan datang ke kawasan pesisir Kaltim namun belum bisa menikmati keindahan bawah laut karena tidak memiliki sertifikat menyelam.
Untuk itu, Dispar Kaltim mendorong pengembangan sekolah menyelam (school diving) di Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong agar wisatawan dapat memperoleh pelatihan sebelum berangkat menuju lokasi penyelaman di Berau dan sekitarnya.
“Jangan sampai orang sudah menempuh perjalanan jauh hanya duduk di pantai karena tidak bisa menyelam. Padahal keindahan utama destinasi kita justru berada di bawah laut,” jelasnya.
Sebagai bagian dari strategi promosi, Dispar Kaltim juga akan membangun ekosistem pariwisata yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari ASITA, PHRI, IHGMA, komunitas pariwisata, biro perjalanan, pemandu wisata, hingga pelaku usaha kuliner.
Seluruh pihak tersebut rencananya akan dikumpulkan dalam satu forum kolaborasi pada Agustus mendatang untuk menyusun strategi bersama dalam mengembangkan sektor pariwisata Kaltim.
“Kita ingin semua bergerak bersama. Travel agent, hotel, restoran, pemandu wisata, semuanya harus saling mendukung sehingga wisatawan mendapatkan pelayanan yang baik dan seluruh pelaku usaha juga merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Tak hanya itu, Dispar Kaltim juga akan memperkuat promosi digital melalui produksi konten visual yang lebih menarik. Faisal menilai promosi pariwisata saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan foto maupun cerita.
“Sekarang zamannya audio visual. Kita harus punya video berkualitas, ada drone, kamera bawah laut, dan konten yang selalu diperbarui. Jangan lagi memakai foto atau video yang usianya sudah 10 tahun. Itu yang sedang kami benahi dalam beberapa bulan ke depan agar promosi pariwisata Kaltim semakin kuat,” pungkasnya. (iN)



