Dinkes Perkuat Upaya Promotif dan Preventif Penyakit Lewat Sekolah hingga Tempat Kerja

SUDUTKATA.COM, SAMARINDA – Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, kader kesehatan, hingga lintas sektor seperti sekolah dan perusahaan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Fitnawati, mengatakan bahwa permasalahan kesehatan tidak dapat diselesaikan hanya oleh institusi kesehatan semata. Diperlukan peran aktif masyarakat dan kerja sama lintas sektor agar upaya promotif dan preventif berjalan efektif.
“Selama ini kita tidak bekerja sendiri. Ada organisasi profesi, organisasi masyarakat, kader-kader, termasuk di sekolah. Puskesmas juga kami dorong karena mereka yang memiliki wilayah kerja dan paling dekat dengan masyarakat,” ujar Fitnawati diruangan Kabid P2P Dinas Kesehatan Kaltim, Kamis (22/01/2026).
Menurutnya, pendekatan pencegahan kini difokuskan dari hulu, salah satunya melalui edukasi di sekolah-sekolah. Remaja menjadi sasaran penting mengingat masih banyak yang belum memahami dampak negatif dari perilaku berisiko, termasuk terkait kesehatan reproduksi dan penyalahgunaan narkoba.
Fitnawati mencontohkan program Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja yang sebelumnya dikembangkan BKKBN. Program tersebut dinilai efektif dalam memberikan pemahaman kepada remaja tentang kesehatan reproduksi, pencegahan HIV, serta kehamilan yang tidak diinginkan.
“Kadang remaja hanya mengejar kesenangan tanpa tahu efek negatifnya. Karena itu edukasi di sekolah sangat penting agar mereka terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelasnya.
Selain sekolah, Dinas Kesehatan juga berencana memperluas sosialisasi ke perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat mobilitas pekerja tinggi. Upaya ini akan dilakukan melalui puskesmas di wilayah masing-masing.
Dalam upaya pencegahan penyakit, Dinas Kesehatan memprioritaskan sejumlah kasus seperti HIV, demam berdarah dengue (DBD), hipertensi, infeksi saluran pernapasan (ISPA) serta penyakit yang rawan meningkat saat pergantian musim.
Sosialisasi dilakukan melalui berbagai media promosi kesehatan dan melibatkan kader posyandu, kader PKK, Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta tokoh masyarakat yang dinilai lebih dekat dengan warga.
“Promotif dan preventif adalah dasar utama pencegahan penyakit. Walaupun anggaran terbatas, kita harus tetap optimis karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” tegas Fitnawati.
Terkait data terkini kasus HIV, Fitnawati menyampaikan bahwa saat ini masih dalam proses validasi. Data dikumpulkan secara berjenjang dari puskesmas ke kabupaten/kota, kemudian ke tingkat provinsi sebelum diumumkan secara resmi.
“Kami tidak bisa langsung menyampaikan angka karena harus melalui proses validasi dan sinkronisasi data, apalagi di akhir tahun masih ada laporan yang perlu ditelusuri ulang,” pungkas Fitnawati. (iN)
