Yello Hotel Samarinda Tampil Baru, Usung Konsep Urban Kreatif untuk Generasi Muda

Yello Hotel Samarinda. (ft. Ist))

SUDUTKATA.COM, SAMARINDA – Dengan wajah baru dan konsep yang berani, Yello Hotel Samarinda kini menegaskan diri sebagai hotel bergaya hidup urban yang menyasar generasi muda. Di bawah naungan Ascott International Group, hotel ini menjadi cabang pertama Yello di Kalimantan Timur (Kaltim) dan bagian dari ekspansi nasional jaringan hotel berbasis gaya hidup digital.

Renovasi Nyaris Total, Konsep Baru Lebih Segar

Asisten Marketing & Brand Manager Yello Hotel Samarinda, Ficky Burase, mengatakan renovasi besar-besaran yang dilakukan mencapai 99,9 persen. Kini, hotel tampil dengan desain yang lebih segar, energik, dan berorientasi pada generasi muda.

General Manager Hotel YELLO Samarinda, Agung Santoso (kanan), dan Asisten Marketing & Brand Manager Yello Hotel Samarinda, Ficky Burase (kiri).

“Kami ingin menghadirkan pengalaman menginap yang berbeda di Samarinda. Yello Hotel bukan sekadar tempat istirahat, tapi ruang kreatif bagi generasi muda,” ujar Ficky saat ditemui, pada Jumat 17 Oktober 2026

“Segmen kami adalah Gen Z dan young professional, dengan sentuhan urban street art yang modern dan interaktif.” Tambahnya.

Fasilitas Fungsional dengan Sentuhan Kreativitas

Berlokasi strategis di jantung Kota Samarinda, Yello Hotel kini memiliki 104 kamar, lima ruang pertemuan, serta satu ballroom yang mampu menampung hingga 300 orang untuk acara seminar, rapat, maupun kegiatan sosial.

Yello Hotel menawarkan daya tarik unik seperti game zone di area lobi yang dilengkapi PlayStation 4 dan meja fussball. Fasilitas ini bebas digunakan oleh para tamu.

“Hotel ini family friendly dan community friendly. Tamu bisa bersantai, bermain game, atau berdiskusi sambil menikmati suasana kafe yang kasual, kami ingin Yello Hotel jadi tempat nongkrong yang nyaman dan kreatif bagi anak muda Samarinda. tuturnya

Branding Lewat Komunitas dan Aksi Sosial

Keunikan Yello Hotel Samarinda bukan hanya pada desain, tetapi juga strategi branding yang berakar pada keterlibatan komunitas lokal.

Melalui program seperti Hype and Seek, kolaborasi dengan komunitas kreatif, serta kegiatan sosial seperti donor darah bersama PMI, hotel ini berupaya memperkuat hubungan dengan masyarakat.

“Brand kami tumbuh bersama masyarakat. Karena itu, kami rutin mengadakan event yang melibatkan komunitas, UMKM, dan warga sekitar. Kegiatan donor darah itu bagian dari komitmen sosial kami untuk memberi nilai tambah bagi kota ini.”

Seni Jalanan Jadi Identitas Visual

Ciri khas urban street art menjadi napas utama Yello Hotel Samarinda. Mural dan graffiti menghiasi hampir setiap sudut ruangan.

Pada momen grand opening, manajemen hotel bahkan menggelar kompetisi graffiti yang melibatkan seniman-seniman lokal. “Kami ingin hotel ini bukan hanya menjual kamar, tapi juga menghadirkan pengalaman budaya dan ruang ekspresi anak muda,” kata Ficky.

Cita Rasa Lokal dengan Sentuhan Modern

Selain tampil atraktif secara visual, Yello Hotel juga menghadirkan cita rasa lokal lewat menu kuliner khas Samarinda. Salah satu yang menjadi signature dish ialah ayam bakar cincane, disajikan dengan sentuhan modern oleh chef hotel agar lebih dikenal wisatawan luar daerah.

Menu lain yang menjadi favorit tamu adalah iga bakar sambal bawang, yang disebut-sebut sebagai best seller bulan ini.

“Kami ingin setiap pengunjung bisa merasakan identitas Samarinda dari rasa, seni, dan suasananya.” Yello Hotel bukan hanya tempat menginap, tapi tempat untuk menikmati energi kota ini.” ujarnya

Simbol Gaya Hidup Baru di Samarinda

Dengan kombinasi antara konsep urban, seni, dan digital, Yello Hotel Samarinda berambisi menjadi simbol baru bagi dinamika kota yang tengah tumbuh pesat ini. Kehadirannya tak sekadar memperkaya warna industri perhotelan, tetapi juga membuka ruang interaksi kreatif bagi masyarakat dan komunitas muda di Kalimantan Timur.

“Nama Yello sendiri bermakna Yes and Hello, semangat positif untuk menyapa dunia,” itulah yang kami bawa ke Samarinda: energi muda, keramahan, dan inovasi tanpa batas.” pungkas Ficky. (MIFA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *