Disbun Kaltim Fokus Penguatan SDM dan Optimalisasi Sarana Perkebunan di Tengah Keterbatasan Anggaran

SUDUTKATA.COM, SAMARINDA, – Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur (Disbun Kaltim) terus berupaya meningkatkan kapasitas petani dan optimalisasi sarana-prasarana perkebunan meskipun menghadapi keterbatasan anggaran.

Hal ini disampaikan oleh Analis Kebijakan Ahli Muda Disbun Kaltim, Marinda Asih Ramadhaniah, S.Si., M.Ec.Dev., dalam wawancara pada Kamis (02/04/2026) di ruang Kabid Pengelolaan dan Pemasaran Kantor Dinas Perkebunan Kaltim.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi anggaran saat ini turut terdampak secara nasional, sehingga berpengaruh pada pelaksanaan program di daerah. Meski demikian pihaknya tetap memprioritaskan pendekatan berbasis sumber daya manusia (SDM), baik kepada petani maupun aparatur.

“Memang kita semua tahu, anggaran saat ini mengalami tekanan di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Dampaknya juga dirasakan di perangkat daerah, termasuk kami. Tapi kami tetap fokus pada penguatan SDM,” ujarnya.

Pada tahun 2026, Disbun Kaltim merancang empat kegiatan pelatihan untuk kelompok tani (poktan). Tiga di antaranya berfokus pada peningkatan kapasitas SDM, sementara satu lainnya terkait pemanfaatan sarana dan prasarana (sapras).

Adapun tiga pelatihan peningkatan kapasitas tersebut meliputi:

  • Pelatihan pengolahan dan pemasaran lada di Karang Joang, Balikpapan
  • Pelatihan pengolahan kelapa menjadi produk turunan seperti keripik kelapa di Desa Janju dan Pasir Belengkong, Kabupaten Paser
  • Pelatihan pengolahan dan pemasaran produk aren di wilayah Sangkulirang Selatan

Pelatihan ini diarahkan untuk mendorong hilirisasi produk perkebunan agar petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah.

“Harapannya petani bisa menghasilkan produk seperti keripik kelapa atau olahan lainnya, sehingga nilai ekonominya lebih tinggi,” jelasnya.

Selain pelatihan, Disbun Kaltim juga menaruh perhatian pada pendataan sarana dan prasarana yang tersebar di kelompok tani. Saat ini, database yang dimiliki masih terbatas, padahal jumlah kelompok tani perkebunan di Kalimantan Timur mencapai sekitar 8.000 poktan.

“Data yang kami miliki baru sekitar 2.000 poktan. Ini jadi tantangan besar karena luas wilayah Kaltim juga sangat besar,” katanya.

Ia menambahkan, banyak bantuan sapras yang berasal dari berbagai sumber seperti APBN, APBD provinsi, kabupaten/kota, CSR, hingga swadaya masyarakat. Namun, belum semua termanfaatkan secara optimal.

“Kadang di lapangan, kelompok tani sudah punya mesin atau bangunan, tapi tidak sesuai kebutuhan atau tidak tahu cara mengoperasikan dan merawatnya,” ungkapnya.

Salah satu kendala utama adalah minimnya pelatihan penggunaan alat, terutama bantuan yang disalurkan pada masa pandemi COVID-19. Banyak alat yang akhirnya tidak digunakan karena petani belum memahami cara operasionalnya.

“Ada yang takut menggunakan karena mesinnya besar, bahkan ada yang sampai sekarang belum pernah dipakai. Ini tentu sangat disayangkan,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Disbun Kaltim mulai melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) pemanfaatan sarana pasca panen, salah satunya di wilayah Marangkayu yang berfokus pada pengolahan kopi.

Dalam hal pemasaran, Disbun Kaltim memanfaatkan berbagai kanal, seperti Toko Kebun Kaltim dan media sosial, serta berkolaborasi dengan instansi lain melalui kegiatan seperti Gerakan Pangan Murah.

“Kami juga sering berkolaborasi karena keterbatasan anggaran. Dalam kegiatan itu biasanya kami membuka booth untuk mempromosikan produk petani,” katanya.

Ke depan, Disbun Kaltim berharap dapat terus meningkatkan akurasi data, memperluas jangkauan pelatihan, serta memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tepat guna.

“Pelan-pelan kami benahi, mulai dari data, pelatihan, sampai pemanfaatan sarana. Harapannya semua bisa berjalan lebih efektif dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani,” tutupnya. (iN)