KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong pemanfaatan platform digital untuk memperluas akses pelatihan, terutama di tengah kebutuhan efisiensi anggaran.
Kepala Diskominfo Staper Kutim Ronny Bonar H. Siburian mengatakan, pelatihan secara langsung tetap dapat dilakukan, tetapi materi yang telah diberikan juga dapat ditempatkan dalam Learning Management System (LMS) agar dapat dipelajari kembali secara daring.
Menurutnya, pola tersebut dapat menjadi alternatif ketika jumlah peserta pelatihan yang harus dijangkau cukup besar, sementara pelaksanaan secara tatap muka membutuhkan anggaran lebih besar.
“Bukan berarti kita menutup untuk melakukan Bimtek secara offline. Tidak. Misalnya capaian kita harus mencapai 200 orang, tetapi kalau kita paksakan 200 mungkin anggarannya terbatas,” kata Ronny, saat diwawancarai di ruangan kerjanya.
Dalam kondisi tersebut, sebagian peserta dapat mengikuti pelatihan secara langsung, sedangkan materi pelatihan yang sama disiapkan dalam platform digital. Peserta yang belum memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan tatap muka tetap dapat mengakses materi melalui LMS.
Ronny menilai pendekatan tersebut dapat membantu memperluas jangkauan pembelajaran sekaligus mendukung efisiensi penggunaan anggaran.
“Modulnya nanti bisa dilekatkan di sini, sehingga yang belum ikut bisa ikut di situ. Itu membantu efisiensi sehingga tidak menjadi pemborosan,” ujarnya.
Pengembangan platform pembelajaran tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas aparatur desa dalam pengelolaan transformasi digital.
Sebelumnya, Diskominfo Staper mendorong pelaksanaan bimbingan teknis bagi aparat desa, termasuk terkait pengelolaan digital dan pembuatan website.
Menurut Ronny, pemanfaatan sistem pembelajaran digital tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh bentuk pelatihan tatap muka. Sebaliknya, platform tersebut menjadi sarana pendukung agar materi yang sudah disusun dapat menjangkau peserta lebih luas.
“Pengembangan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, termasuk open source dan subdomain yang telah dimiliki, sehingga tidak membutuhkan pembiayaan besar,” tandasnya. (adv/Kutim/Ra)



