KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Luas wilayah Kabupaten Kutai Timur menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Tidak sedikit titik kebakaran berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau menggunakan kendaraan pemadam berukuran besar.
Pejabat Fungsional Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Kutai Timur, Khairunnisa Nur, mengatakan BPBD telah menempatkan sejumlah peralatan operasional untuk mempercepat penanganan kebakaran, mulai dari kendaraan suplai air hingga pompa pemadam.
Namun kondisi geografis di sejumlah wilayah membuat petugas membutuhkan perlengkapan yang lebih fleksibel.
“Wilayah yang biasanya terbakar itu bukan hanya yang dekat permukiman. Banyak lokasi yang sulit dijangkau. Kalau menggunakan mobil, sulit masuk ke jalan-jalan tertentu,” kata Khairunnisa.
Karena itu, beberapa kecamatan juga dibekali kendaraan roda dua dan pompa portabel agar petugas dapat mencapai lokasi yang tidak dapat dilalui mobil.
BPBD juga menyiapkan pompa apung untuk mendukung pemadaman pada lokasi yang memiliki sumber air tetapi sulit dijangkau peralatan berukuran besar.
Menurut Khairunnisa, pendekatan tersebut penting karena karakteristik kebakaran di Kutai Timur berbeda-beda. Kecepatan petugas menuju lokasi menjadi faktor penentu agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran luas.
Meski demikian, ia mengakui pemanfaatan sejumlah kendaraan operasional di tingkat kecamatan belum sepenuhnya maksimal.
BPBD telah meminta masukan dari pihak kecamatan untuk mengetahui kendala yang dihadapi. Salah satu persoalan berkaitan dengan dukungan biaya operasional terhadap kendaraan yang secara administrasi masih tercatat sebagai aset BPBD.
Kondisi tersebut membuat beberapa kecamatan menghadapi keterbatasan dalam membiayai operasional kendaraan ketika dibutuhkan.
“Ini yang masih kami cari solusinya. Karena asetnya masih aset BPBD, sehingga dukungan operasionalnya juga harus disesuaikan,” jelasnya.
Ia berharap persoalan tersebut mendapat perhatian karena penanganan bencana membutuhkan respons cepat tanpa terkendala proses administratif.
Terlebih, kebakaran hutan dan lahan berpotensi berkembang dalam waktu singkat ketika kondisi vegetasi kering disertai angin kencang.
BPBD Kutim memastikan kesiapsiagaan peralatan terus diperkuat, termasuk melalui koordinasi dengan kecamatan, masyarakat, TNI, Polri serta pihak perusahaan yang berada di sekitar wilayah rawan kebakaran. (TA/ADV/Kutim).



