KUTAI TIMUR, sudutkata.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan belum sepenuhnya padam di Kutai Timur. Di tengah datangnya hujan di sejumlah wilayah, sebanyak 81 kejadian karhutla telah tercatat dengan luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 143 hektare hingga awal September 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur mencatat angka tersebut berdasarkan hasil pendataan sampai Senin (7/9/2026). Kepala BPBD Kutim, Sulastin, menyampaikan bahwa meskipun jumlah kejadian karhutla terbilang tinggi, situasi di sebagian besar wilayah kabupaten saat ini masih dapat dikendalikan. Dari total 18 kecamatan di Kutai Timur, mayoritas dilaporkan berada dalam kondisi aman, sedangkan aktivitas kebakaran masih terpantau antara lain di Kecamatan Sangatta Selatan.
“Kalau Kutim sampai dengan hari ini itu ada kurang lebih 81 kejadian. Sekitar 143 hektare kurang lebih total semuanya,” kata Sulastin usai mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Puncak Karhutla tingkat nasional secara virtual.
Catatan luas lahan terdampak tersebut menjadi gambaran bahwa kewaspadaan masih dibutuhkan, terutama selama musim kemarau. BPBD terus mengawasi perkembangan titik panas yang dapat menjadi indikasi awal munculnya kebakaran. Berdasarkan pemantauan terakhir, sebanyak 51 hotspot tercatat berada dalam kategori sedang.
Pemantauan titik panas dilakukan secara berkala untuk mendukung langkah penanganan lebih dini. Informasi mengenai lokasi hotspot menjadi salah satu dasar bagi petugas untuk meningkatkan pengawasan lapangan, terutama pada kawasan yang dinilai rawan mengalami kebakaran ketika kondisi lahan dan vegetasi mengering.
Di sisi lain, perubahan cuaca mulai membawa kabar baik bagi upaya pengendalian karhutla. Hujan telah mengguyur beberapa wilayah Kutai Timur, termasuk Kecamatan Rantau Pulung dan Muara Ancalong. Turunnya hujan diharapkan mampu meningkatkan kelembapan tanah sekaligus mengurangi potensi kemunculan titik api baru.
Setiap hujan yang turun, menurut BPBD, tetap dicatat secara rinci. Durasi serta intensitas hujan menjadi bagian dari data pemantauan untuk membaca perkembangan tingkat kerawanan kebakaran di masing-masing wilayah. Semakin merata hujan turun, semakin besar peluang lahan yang sebelumnya kering kembali basah sehingga risiko kebakaran bisa ditekan.
Namun, faktor cuaca saja dinilai belum cukup. Upaya mencegah kebakaran juga sangat bergantung pada keterlibatan berbagai unsur, baik pemerintah daerah, aparat keamanan, perusahaan maupun masyarakat. BPBD menekankan pencegahan harus dimulai sejak dini agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Bencana ini bukan hanya tanggung jawab BPBD, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua termasuk masyarakat,” ujarnya.
Masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran lahan secara sembarangan, terutama ketika cuaca panas dan vegetasi berada dalam kondisi kering. Api dalam skala kecil sekalipun dapat dengan cepat meluas apabila didukung angin dan material yang mudah terbakar.
Warga juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik api ataupun tanda-tanda kebakaran hutan dan lahan di lingkungan sekitar. Pelaporan lebih awal dinilai penting agar petugas dapat bergerak sebelum kebakaran meluas dan menimbulkan dampak lebih besar.
BPBD Kutim memastikan layanan pemantauan dan penanganan kebencanaan tetap beroperasi selama 24 jam. Kesiapsiagaan petugas dipertahankan seiring masih berlangsungnya periode kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla.
Dengan dukungan curah hujan, pemantauan hotspot yang berkelanjutan serta keterlibatan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan, pemerintah daerah berharap jumlah kejadian karhutla di Kutai Timur dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi kebakaran dalam skala yang lebih luas.(RA/ADV/Kutim)



