SAMARINDA, sudutkata.com – Dr. dr. Virdy Kurniawan, Sp.Og., MMR., AIFO-K resmi memimpin Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aisyiyah Samarinda untuk masa bakti 2026-2030. Ia membawa agenda perubahan layanan agar rumah sakit tersebut dapat berkembang menjadi rumah sakit umum.
Virdy dilantik sebagai Direktur RSIA Aisyiyah Samarinda dalam acara yang berlangsung di Aula Gedung E Lantai 4 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Samarinda, Ahad, 16 Agustus 2026. Pelantikan itu dirangkai dengan wisuda Senior School Aisyiyah Husnul Khatimah.

Dalam sambutannya, Virdy mengatakan jabatan tersebut diperolehnya melalui proses seleksi yang cukup panjang. Ia mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari seleksi, wawancara hingga pengujian kemampuan.
“Bukan karena saya dipilih atau diistimewakan. Saya mengikuti prosesnya, mengikuti seleksinya,” kata Virdy.
Ia juga menuturkan perjalanan pendidikan dan karier yang mengantarkannya ke posisi tersebut. Virdy pernah mendapat tawaran melanjutkan pendidikan ke Jerman melalui program beasiswa di bidang hospital engineering. Namun, kesempatan itu tidak membuatnya menetap di luar negeri.
Ia memilih kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pengabdian dan mengembangkan keahliannya. Dalam perjalanan kariernya, Virdy kemudian menjalani sejumlah proses seleksi sebelum akhirnya berkecimpung dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.
Menurut dia, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa sebuah keberhasilan tidak datang secara instan. Perjuangan dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas seseorang.

“Kalau ada perjuangan, saya akan terus berusaha menjadi lebih baik,” ujarnya.
Sebagai direktur baru, Virdy menyiapkan perubahan pada RSIA Aisyiyah. Salah satu agenda utamanya adalah memperluas cakupan layanan sehingga rumah sakit tidak hanya melayani pasien ibu dan anak.
Mulai tahun depan, manajemen akan menyiapkan penambahan layanan, antara lain penyakit dalam dan bedah. Langkah itu menjadi bagian dari rencana transformasi RSIA Aisyiyah menjadi rumah sakit umum.
“PR saya ke depan adalah mengubah image Aisyiyah, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak menjadi rumah sakit umum. Jadi bukan hanya melayani ibu dan anak, ada penyakit dalam, ada bedah yang akan menjadi layanan tambahan,” kata Virdy.
Ia menyadari rencana tersebut menghadapi sejumlah kendala. Kondisi keuangan serta keterbatasan lahan menjadi tantangan karena lokasi rumah sakit saat ini sudah cukup padat.
Namun, Virdy mengatakan keterbatasan tersebut tidak boleh menghambat upaya peningkatan pelayanan. Manajemen akan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dilayani.
“Dengan semua keterbatasan itu kita coba optimalkan. Bagaimana caranya pelayanan tetap bisa berjalan dan masyarakat tetap bisa terlayani dengan baik,” tuturnya.
Di tengah rencana perubahan itu, Virdy memastikan karakter RSIA Aisyiyah sebagai rumah sakit yang mengusung konsep pelayanan Islami tidak akan ditinggalkan.
Menurut dia, rumah sakit tersebut memiliki sejarah panjang sejak berdiri pada 1967. Identitas itu, kata dia, menjadi salah satu kekuatan yang membuat RSIA Aisyiyah tetap mendapat kepercayaan masyarakat.
“Rumah sakit ini sudah berdiri dari tahun 1967. Rumah sakit Islam yang konsepnya Islami dan masih bertahan sampai sekarang. Ini harus tetap dipertahankan selama-lamanya,” ujar Virdy.
Ia menegaskan transformasi menjadi rumah sakit umum tidak berarti menghilangkan nilai-nilai yang selama ini menjadi ciri RSIA Aisyiyah. Perluasan layanan justru diharapkan membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan pelayanan kesehatan tanpa kehilangan karakter rumah sakit.
“Kita sebagai umat Muslim ingin warga Muslim juga punya tempat yang layak untuk berobat. Nama baik dan konsep Islami ini harus tetap dipertahankan,” katanya.
Virdy berharap jajaran RSIA Aisyiyah dapat membangun kerja sama yang kuat selama masa kepemimpinannya. Menurut dia, jabatan direktur bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pelantikan tersebut dihadiri sejumlah tamu undangan dari unsur rumah sakit di Samarinda, jajaran Aisyiyah, tokoh organisasi serta insan pers. Masa bakti 2026-2030 menjadi periode bagi Virdy untuk membawa RSIA Aisyiyah memperluas layanan sekaligus mempertahankan identitas yang telah dibangun selama puluhan tahun. (Mifa)



