“Silaturahmi Bunyi”, Cara Seniman Kaltim Menghidupkan Musik Tradisi di Era Modern

Kelompok Topa membawakan pertunjukan musik etnik bertajuk “Silaturahmi Bunyi” di Gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur, Samarinda, dengan memadukan ragam bunyi tradisional dan eksplorasi musik kontemporer. Rabu 20/5/2026. (dok. sudutkata)
SAMARINDA, sudutkata.com – Alunan musik tradisional berpadu dengan eksplorasi bunyi kontemporer dalam pertunjukan bertajuk “Silaturahmi Bunyi” di Studio Mini Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur (Kaltim). Kelompok musik Topa menghadirkan perpaduan berbagai instrumen etnik Kalimantan Timur dan Nusantara sebagai upaya menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur, Titit Lestari, mengatakan pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pengembangan sekaligus pemanfaatan warisan budaya daerah melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Pertunjukan ‘Silaturahmi Bunyi’ dari teman-teman Topa tadi adalah salah satu bentuk pengembangan dan pemanfaatan warisan budaya kita,” kata Titit Lestari kepada wartawan. Rabu, 20/05/2026.

Menurut dia, sejumlah alat musik tradisional yang biasanya dimainkan secara terpisah diramu menjadi harmoni baru tanpa meninggalkan akar tradisinya. Dalam pertunjukan itu, bunyi gambus, suling dewa, hingga petikan sape dipadukan dengan berbagai sumber bunyi lain yang berasal dari tradisi lokal.
“Misalnya ada bagian dari gambus, kemudian suling dewa, ada sape yang biasanya dimainkan sendiri. Tapi ini diharmonikan dengan bunyi-bunyian lain yang bersumber dari tradisi,” ujarnya.
Tak hanya menggunakan alat musik utama, kelompok Topa juga memanfaatkan benda-benda tradisional yang memiliki karakter suara khas sebagai bagian dari komposisi pertunjukan. Salah satunya kerincingan yang biasanya menjadi bagian dari pakaian adat.
“Tadi ada kerincingan yang sebenarnya bagian dari pakaian tradisional, lalu dimanfaatkan menjadi sumber bunyi,” kata Titit Lestari.
Ia menjelaskan, pemerintah memiliki tiga tahapan utama dalam pelestarian budaya, yakni pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Menurut dia, sejumlah musik tradisi di Kalimantan Timur sejauh ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sebagai bagian dari proses pelindungan.
Namun, Titit Lestari menilai pelestarian budaya tidak cukup berhenti pada dokumentasi atau penetapan semata. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengembangkan budaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Kita mendorong generasi muda melakukan pengembangan dan pemanfaatan. Pertunjukan teman-teman Topa tadi mudah-mudahan bisa menginspirasi bahwa karya musik tradisi juga cocok untuk kekinian,” jelasnya.
Ia menilai kolaborasi menjadi strategi penting agar musik tradisional tetap diterima generasi muda, terutama Generasi Z. Musik etnik, kata dia, dapat dipadukan dengan unsur modern tanpa menghilangkan nilai tradisinya.
“Kalau ingin diterima di dunia modern, ya harus ada kolaborasi. Musik tradisi bisa digabungkan dengan musik modern sehingga menghasilkan harmoni yang nyaman diperdengarkan generasi muda,” tuturnya.
Menurut Titit Lestari, pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang edukasi budaya bagi masyarakat. BPK Wilayah XIV Kalimantan Timur turut menghadirkan berbagai kalangan mulai dari pengurus sanggar seni, akademisi, komunitas budaya, hingga insan pers untuk mengapresiasi pertunjukan musik etnik tersebut.
Ia mengatakan bunyi merupakan medium komunikasi yang efektif. Karena itu, karya yang ditampilkan para seniman diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk terus aktif berkarya dan menjaga warisan budaya daerah.
“Beberapa bunyi-bunyian tradisional yang dulu hanya digunakan untuk ritual, sekarang punya ruang lebih luas untuk dikembangkan tanpa menghilangkan nilai luhurnya,” ujarnya.
Sementara itu, pimpinan kelompok musik Topa, Tri Andi Yuniarso, mengatakan kelompoknya selama ini konsisten menggarap musik etnik khas Kalimantan Timur dengan pendekatan eksplorasi bunyi.
Ia menjelaskan nama Topa berasal dari bahasa Kutai yang berarti sanggup atau mampu melakukan sesuatu. Kelompok musik asal Bukit Biru, Tenggarong, itu telah berdiri sejak 2005 dan aktif mengikuti berbagai festival musik etnik di sejumlah daerah.
“Topa itu bahasa Kutai, artinya sanggup atau mampu melakukan sesuatu,” kata Tri Andi
Kelompok tersebut sebelumnya pernah tampil dalam Festival Genta Nusantara di Bali pada 2023. Mereka juga beberapa kali tampil di berbagai festival musik etnik di Bandung maupun Tenggarong.
Menurut Tri Andi, pertunjukan “Silaturahmi Bunyi” sengaja ditempatkan bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional sebagai refleksi agar para pelaku seni terus bangkit dalam berkarya.
“Ini jadi refleksi bahwa kami harus terus bangkit dalam pengkaryaan,” ujarnya.
Dalam pertunjukan tersebut, Topa menampilkan komposisi instrumental yang memadukan alat musik tradisional dengan instrumen hasil ciptaan mereka sendiri. Tri mengatakan kelompoknya lebih banyak bermain pada wilayah eksplorasi bunyi dibandingkan lagu dalam pengertian umum.
“Kami lebih bermain di wilayah bunyi, bukan lagu. Jadi bentuk instrumental itu kami padukan dengan berbagai instrumen, termasuk alat musik hasil ciptaan kelompok Topa sendiri,” katanya.
Tema “Silaturahmi Bunyi” dipilih sebagai simbol hubungan antarmanusia yang tidak hanya terjalin secara fisik, tetapi juga melalui rasa dan bunyi.
“Harapannya kita tetap bisa bersilaturahmi, bukan hanya secara fisik, tapi juga silaturahmi jiwa melalui bunyi,” ucapnya.
Meski telah lama berkecimpung di dunia seni, Tri mengaku kelompoknya tidak menjadikan musik sebagai orientasi komersial utama. Mereka bahkan kerap menolak tawaran tampil apabila konsep pertunjukan dianggap tidak sesuai dengan karakter musik yang dibawakan.
“Sajian musik kami tidak bisa sekadar lewat begitu saja. Musik ini perlu benar-benar dinikmati karena memang bukan musik hiburan seperti pada umumnya,” katanya.
Ia optimistis perkembangan musik etnik di Kalimantan Timur akan terus tumbuh, terutama dengan hadirnya institusi pendidikan seni seperti Institut Seni Budaya Indonesia dan Universitas Mulawarman yang memiliki kajian etnomusikologi.
“Perkembangannya sangat bagus. Saya tidak terlalu khawatir anak-anak muda sekarang melupakan tradisinya. Saya yakin tradisi ini akan terus berkembang,” Pungkas Tri Andi Yuniarso. (In)
