Diprotes Warga, Perumda Tirta Kencana Samarinda Janji Perbaiki Sistem Pembacaan Meter Air

SUDUTKATA.COM, SAMARINDA, – Puluhan warga Perumahan Grand Taman Sari (GTS), Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Senin pagi (3/11/2025), mendatangi kantor Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Kencana di Jalan Tirta Kencana, Kelurahan Bugis.
Kedatangan mereka bukan untuk menuntut pelayanan baru, melainkan menuntut kejelasan atas lonjakan tagihan air yang dinilai tidak masuk akal. Sebagian pelanggan mengaku tagihannya naik dua hingga tiga kali lipat dibanding bulan sebelumnya, padahal pemakaian air rumah tangga mereka relatif stabil.

Dalam pertemuan yang difasilitasi langsung oleh Direktur Pelayanan Perumda Tirta Kencana Samarinda, Widyastuti Supartinah, sejumlah warga mempertanyakan akurasi alat smart water meter yang digunakan perusahaan.
Mereka menduga lonjakan tagihan terjadi akibat kesalahan pembacaan alat meter digital, bukan karena peningkatan konsumsi air. “Kami tidak merasa memakai air lebih banyak, tapi tagihan melonjak drastis. Ini jelas tidak wajar,” kata salah satu warga dalam forum dialog itu.
Di hadapan perwakilan warga, hadir pula Manajer Hubungan Pelanggan (Hublang) Iwan Yusliansyah dan Humas Perumda Tirta Kencana, Taufiq, yang secara terbuka menerima semua keluhan yang disampaikan.
Pihak Perumda akhirnya mengakui adanya gangguan teknis pada sistem pembacaan meter di kawasan Grand Taman Sari.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” ujar Taufiq, Humas Perumda Tirta Kencana.
Menurutnya, hasil pemeriksaan internal menunjukkan bahwa alat pembaca meter sempat mengalami gangguan akibat sambaran petir, yang menyebabkan data konsumsi air tidak terbaca secara akurat.
“Pembacaan digital di beberapa titik tidak sinkron dengan data pusat. Karena itu, kami akan melakukan pembacaan ulang secara manual agar tagihan bisa disesuaikan dengan pemakaian sebenarnya,” tutur Taufiq.
Dalam rapat yang berlangsung terbuka, disepakati bahwa seluruh meter air pelanggan di kawasan GTS akan diperiksa kembali secara manual oleh petugas lapangan.
“Revisi hasil pembacaan akan kami rilis pada 5 Oktober 2025. Untuk sementara waktu, pelanggan tidak perlu membayar tagihan sampai data baru keluar,” jelas Taufiq.
Ia menambahkan, hasil pembacaan manual akan disertai bukti foto meteran air setiap pelanggan, agar warga dapat membandingkan data dan memastikan keakuratannya.
“Mulai besok, tim kami turun langsung mengambil data lapangan dan mendokumentasikan meter pelanggan satu per satu,” tambahnya.
Meski sempat tegang di awal pertemuan, suasana diskusi berangsur cair setelah pihak perusahaan membuka ruang klarifikasi dan menyampaikan solusi konkret.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, penjelasan terbuka dari Perumda menjadi titik terang setelah beberapa hari warga kebingungan menghadapi tagihan melonjak.
“Kami bersyukur akhirnya ada tanggapan langsung. Selama ini kami tidak tahu harus mengadu ke siapa,” ujarnya.
Warga lainnya menyebut langkah ini sebagai awal komunikasi yang baik antara pelanggan dan Perumda Tirta Kencana.
“Kami apresiasi kesediaan mereka turun langsung. Kami siap menunggu hasil revisi, tapi berharap sistemnya bisa diawasi lebih ketat agar kasus serupa tak terulang,” katanya.
Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu ditutup dengan kesepakatan bersama antara warga Grand Taman Sari dan manajemen Perumda Tirta Kencana.
Pihak perusahaan berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem smart water meter yang digunakan di sejumlah perumahan di Samarinda.
“Evaluasi ini penting agar ke depan pelayanan lebih akurat dan tidak merugikan pelanggan,” kata Taufiq.
Perumda Tirta Kencana memastikan hasil pembacaan ulang akan dipublikasikan secara transparan, dan setiap pelanggan berhak mengakses bukti foto meteran mereka.
Dengan langkah itu, perusahaan berharap kepercayaan warga terhadap layanan air bersih bisa pulih, sekaligus menjadi momentum perbaikan sistem digitalisasi meter air di Samarinda. (MIFA)
